English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Panjat Tebing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panjat Tebing. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Februari 2010

Latihan Bersama Komunitas Panjat Tebing Yogyakarta di Gunung Api Purba, Tebing Nglanggeran

Komunitas Panjat Tebing Yogyakarta atau yang familiar disebut KPTY merupakan wadah yang menyalurkan aktivitas minat khusus panjat tebing yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada hari sabtu-minggu, tanggal 6-7 Februari 2010, KPTY meyelenggarakan kegiatan latihan bersama (latber) di tebing Nglanggeran, di kawasan Ekowisata Gunung Api Purba, Bukit Patuk Gunung Kidul Yogyakarta.
Tebing Nglanggeran merupakan tebing yang terbentuk dari aktivitas Gunung Api Purba ribuan tahun lalu dan membentuk bongkahan-bongkahan tebing eksotis yang menantang untuk digerayangi oleh para pemanjat. Akses menuju lokasi ini sangat mudah. Dari arah Yogyakarta melalui jalan Wonosari menuju bukit Patuk, kemudian tiba diperempatan Pos Polisi Patuk ke arah kiri terus mengikuti jalan aspal sampai melewati deretan tower (menara) pemancar stasiun televisi dan seluler. Sekitar 1km dari deretan tower di sebelah kanan jalan ada pertigaan dengan penunjuk arah (plang) ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran dan terus saja mengikuti jalan aspal hingga tiba di pendopo atau sekretariat Karang Taruna Bukit Putra mandiri.
Kegiatan latihan bersama ini berawal dari arisan (pertemuan) KPTY di sekretariat Madawirna (UNY) yang ingin menyelenggarakan latihan rutin, dan atas rekomendasi dari Silvagama (F.Kehutanan-UGM) dan Majestic-55 (F.Hukum-UGM) untuk menyelenggarakan latihan bersama di tebing alam, dan tebing Nglanggeran menjadi pilihan untuk latihan karena kedua OPA tersebut sudah pernah manjat di tebing tersebut dan membuat jalur.
Persiapan awal yang dilakukan adalah pembentukan kepanitiaan yang akan mengkoordinir kegiatan tersebut, dan saudara Anton Giri Sadewa dari Mapala Madawirna (UNY) terpilih sebagai coordinator panitia. Kendala awal yang dihadapi panitia adalah masalah koordinasi, karena berbenturan dengan kegiatan internal di OPA masing-masing, sehingga agak sedikit menyulitkan persiapan. Namun dengan semangat ingin mensukseskan kegiatan ini, maka terwujudlah kegiatan ini dan diikuti oleh 30 orang peserta dari berbagai OPA di Yogyakarta.
Sebelum kelapangan, terlebih dahulu ada pembekalan materi teknik bolting (pemasangan pengaman bor) oleh panitia. Kegiatan dimulai pada hari sabtu dengan pemberangkatan peserta dari Madwirna menuju lokasi (Desa Nglanggeran) dengan kendaraan bermotor. Kemudian ada sosialisasi dari Karang Taruna Bukit Putra Mandiri yang menjelaskan tentang potensi wisata minat khusus panjat tebing di daerah tersebut.
Kendala dihari pertama adalah hujan gerimis, namun hujan gerimis tak menjadi hambatan untuk melanjutkan kegiatan. Sementara untuk peralatan panjat sendiri sangat mencukupi. Jalur yang akan dibuat adalah jalur sport climbing, karena untuk artificial di tebing ini agak sedikit susah dengan kondisi batuan yang mudah rapuh dibeberapa bagian. Hari pertama jalur belum selesai dibuat dan dilanjutkan keesokan harinya.
Hari kedua pemanjatan, peserta dibagi menjadi 3 kelompok, untuk latihan di 2 jalur sport yang sudah ada sebelumnya, yaitu jalur silvagama dan jalur Nyingnying yang di buat oleh Majestic-55, serta jalur baru yang dibuat saat latgab KPTY. Namun sangat disayangkan, penerapan safety procedure kurang diperhatikan oleh beberapa peserta, terutama penggunaan helm sebagai pelindung kepala. Saat reporter KAONAK meliput kegiatan latgab ini, ada beberapa peserta yang tidak menggunakan helm panjat, dan saat dikonfirmasi kepada peserta yang lain ternyata menggunakan helm saat manjat itu tidak asyik, dan juga karena alasan ini adalah jalur sport, maka tidak menggunakan helm tidak apa-apa, dan bahkan ada yang mengatakan kalau pemanjat luar (luar negeri) saja kalau manjat tidak pakai helm seperti yang ada diposter-poster. Sungguh disayangkan memang, menyepelekan hal yang kecil untuk keselamatan diri sendiri.
Antusias peserta juga sangat mendukung kegiatan ini, hal ini terlihat dari rasa penasaran peserta saat melakukan pemanjatan. Menurut Ade, salah satu peseta dari Plantagama (F.Pertanian-UGM), kegiatan ini memberikan pengalaman tersendiri karena ini tebing baru yang dieksplore dan juga bisa sharing ilmu mengenai pemanjatan tingkat tinggi, terutama teknik bolting. “Penerapan safety procedure masih kurang, karena masih ada yang tidak menggunakan helm, padahal karakter tebing ini batuannya mudah lapuk”, tambah ade ketika diwawancarai mengenai faktor keselamatan dalam pemanjatan.
Dari kegiatan ini, diharapkan penggiat panjat tebing Yogyakarta dapat beraktivitas bersama dalam pemanjatan. “Ini merupakan awal kebangkitan KPTY, dan kedepannya dapat latihan rutin di tebing alam dan tidak melulu kita latihan di tebing buatan (wall climbing)”, tambah Anton, ketua panitia kegiatan.
Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba ini sendiri sudah dikembangkan sejak tahun 1999, namun pada tahun 2001 sampai tahun 2007, pengelolaannya vakum, dan bangkit kembali pada tahun 2008. Menurut Lilik, salah satu anggota Karang Taruna Bukit Putra Mandiri, kawasan ekowisata ini berpotensi untuk untuk dikembangkan. Ketika dikonfirmasi mengenai kegiatan latber KPTY ini, Karang Taruna setempat sangat mendukung kegiatan ini. “Harapannya dengan kegiatan ini bisa menjadikan Tebing Nglanggeran menjadi salah satu tujuan obyek wisata minat khusus panjat tebing dan bisa dikelola lebih baik lagi” kata lilik menjelaskan kepada wartawan KAONAK disela-sela aktivitas beliau menjaga parkir motor didepan sekretariat karang taruna. “Kendala kita adalah kita tidak mempunyai peralatan sendiri, tapi daerah kita punya potensi untuk aktivitas panjat tebing”, tambah lilik. Aktivitas panjat tebing di Tebing Nglanggeran sendiri baru berjalan 1 tahun terakhir ini, dan semoga dapat ramai dikunjungi oleh penggiat olahraga panjat tebing dari penjuru negeri.

Report & Photo by : Thole_378/GPA
(Yohanes Kurnia Irawan)

Untuk Buletin KAONAK Edisi 55-Februari 2010
Media Informasi Independent GAPADRI MAPALA STTNAS YOGYAKARTA

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Minggu, 10 Mei 2009

Fall Factor and Shock Load

Dalam situasi vertical, dengan menggunakan tali dinamis, jarak jatuh tidak pernah menjadi factor penentu (dalam arti secara aspek psikologis), tetapi perbandingan (rasio) ketinggian saat jatuh dengan panjang tali yang digunakan pada saat itu (panjang tali yang memisahkan antara pemanjat dengan belayer). Perbandingan (rasio) itu disebut sebagai fall factor. Dengan adanya fall factor tersebut, membuat kita dapat memprediksikan kekuatan benturan yang di sebabkan jatuhnya seorang pemanjat.
Dalam pemanjatan, fall factor tertinggi memiliki nilai 2, karena tidak mungkin seorang pemanjat jatuh melebihi 2 kali panjang tali yang di gunakan. Hal tersebut merupakan asumsi dasar yang harus di pahami dan semua rangkaian elemen yang di gunakan untuk membelay (tali, karabiner, point anchor,...) di buat, di desain dan di jamin berdasarkan nilai fall factor terbesar tersebut.
Ternyata nilai fall factor 2 menghasilkan daya benturan terbesar pada pemanjat yang jatuh, dan daya benturan ini identik dengan yang di terima oleh point anchor. Jika di gunakan running belay maka fall factor akan di reduksi demikian juga dengan daya benturan yang di terima oleh pemanjat. Namun perlu dicatat, bahwa running belay dapat menjadi subyek utama yang dapat menggandakan daya benturan bagi pemanjat.
Hal yang belum dapat di jelaskan adalah seberapa besar energi yang di distribusikan oleh fall factor terhadap pemanjat, belayer dan berbagai komponen yang digunakan saat jatuh.
Shock Load (Beban kejut) di tentukan oleh 3 Faktor yaitu sifat dasar tali, Fall factor, Massa atau beban objek. Massa/beban objek, (dalam hal ini adalah anda) Ternyata, hanya sebagian dari factor-faktor ini yang dapat mereduksi gaya yang timbul saat jatuh, yaitu faktor kelenturan tali. Jadi system keamanan pemanjatan di tentukan oleh kualitas daya serap beban (shock absorbing quality) yang di miliki oleh tali dinamis.
Kemampuan tali dinamis dalam menyerap beban kejut melindungi pemanjat dari efek yang di timbulkan saat jatuh, dan mereduksi adanya kesalahan pada system yang digunakan. Kenyataannya, tali dinamis merupakan satu-satunya tali yang memberikan kelebihan tersebut pada saat di gunakan pada semua system. Tali dinamis di desain bagi pemanjat (80 kg) untuk menerima beban dalam kasus fall terburuk sekalipun (fall factor 2) hingga 12 kN, sehingga "waktu istirahat" untuk penggunaannya dapat di tentukan dengan mengetahui kekuatan maksimumnya.
Lebih panjang tali berarti lebih besar tingkat kelenturannya untuk menyerap beban kejut yang di sebabkan oleh fall. Hal ini menjelaskan kenapa jatuh 4 meter dan 20 meter dengan fall factor 2 menghasilkan beban kejut yang sama, yaitu 19 kN, dengan asumsi tali dinamis yang di gunakan sesuai dengan standart UIAA. Apa yang terjadi merupakan penambahan jarak fall (dan beban kejut yang besar berkurang karenanya) yang di kompensasikan dengan panjang tali yang ada.

(Di terjemahkan secara bebas dari
Fall Faktor Explaineddan Your Life Depends on The Stretch of Rope

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Selasa, 21 April 2009

The Pluralism of Climbing Games

Pemanjatan modern meliputi suatu spektrum yang luas dari berkisar aktivitas antara hiking dan bouldering hingga pemanjatan crag dan teknik mendaki gunung - termasuk format yang ekstrim dari ketinggian alpinism dan ekspedisi memanjat di Andes atau Himalaya. Sekalipun garis yang membedakan antara variasi format dari memanjat sama sekali tidak kaku, penggolongan berikut membuatnya mungkin untuk menyajikan keaneka ragaman yang luas dari olah raga gunung modern dalam sebuah tatakrama yang dapat dimengerti.

Hiking and Trekking

Hiking ke lereng gunung dan puncak di pre-alpine dan daerah alpen adalah format yang paling tersebar luas dari mendaki gunung. Suatu perjalanan berhari-hari di pegunungan tinggi, terutama melalui rute yang sulit, hari–hari seperti ini sering dikenal sebagai sebuah treking/perjalanan. Hiking mengarah pada sesuatu yang lebih menuntut format mendaki gunung secepatnya layaknya menggunakan tangan untuk kemajuan.

Pemanjatan Via Ferratas

Beraktivitas pada daerah curam yang berbatu-batu yang dilengkapi dengan kabel baja dan janjang besi menjadi semakin dan lebih populer. Suatu gelanggang sampai sekarang ini, disediakan untuk pendakian tebing teknis, suatu prasarana yang lebih terperinci dengan system proteksi khusus.

Tehnik mendaki gunung klasik

Seorang pendaki gunung pada kategori ini akan memanjat dari grade 3 standar UIAA dan naik 40 derajat sampai ke salju dan es. Tujuan yang khas dari kategori memanjat ini adalah rute yang reguler hingga mencapai puncak di daerah alpen.

Tehnik mendaki gunung Ski

Penganut format klasik alpinism ini menggunakan alpen atau telemark ski untuk berjalan naik pegunungan atau melintasi suatu daerah. Dalam kaitannya dengan kompleksitas dari keterampilan yang diperlukan, disiplin ini tergolong di antara yang paling menuntut dan berbahaya.

Hirarki dari “Memanjat”

Suatu sistem untuk mengkategorikan jenis yang berbeda dari memanjat diperkenalkan oleh Lito Tejada-Flores, telah terbukti sangat menolong dalam mendeskripsikan banyak segi pemanjatan modern yang telah diperoleh. Tiap-Tiap jenis khusus pemanjatan “game” digambarkan informal tetapi dengan suatu satuan aturan tepat, yang dirumuskan agar terpeliharanya tugas yang sulit–dan dengan demikian menjadi menarik. Bahaya terbesar dalam sebuah game pemanjatan tertentu dalam kaitannya dengan lingkungan alami, semakin toleran pembatasan penggunaan dari peralatan teknis. Semakin rendah bahaya obyektifnya maka semakin keras disiplin aturannya.

Bouldering

Dalam “Bouldering” bagian yang sulit dari batu dekat dengan tanah, normalnya dengan tidak menggunakan tali. Peralatan yang diijinkan dikurangi hingga sepatu panjat, chalk bag– dan akhir-akhir ini– suatu bantalan pengaman (Matras). Bouldering dilakukan pada batuan alami dan batuan seperti halnya pada objek tiruan.

Pemanjatan pada object tiruan

Belakangan ini kebanyakan pemanjat menggunakan dinding tiruan, di rumah, gimnasium atau diluar rumah untuk latihan dan kesenangan. Kompetisi yang sudah memperoleh ketenaran selama dua dekade, kini hadir suatu format yang sangat khusus dari jenis pemanjatan ini. Saat ini, kompetisi diselenggarakan dalam berbagai disiplin: “kesulitan”, “ kecepatan” dan “bouldering” dengan satu set aturan yang didefinisikan oleh International Council for Competition Climbing (ICCC) dari UIAA.

Crag Climbing

Mengarah antara yang pertama dan tiga hal yang disebut pemanjatan crag (Crag Climb). Oleh karena pemendekan mereka dan hampir total ketidak hadiran bahaya yang objektif, “etika” kenaikan secara bebas telah memperoleh persetujuan internasional untuk jenis pemanjatan ini selama dua dekade. Ini berarti bahwa hanya sebuah gelar jika tidak ada peralatan tetap ditempatkan di tebing telah digunakan untuk naik selama pemanjatan tersebut.


Gaya: Pemanjatan Petualangan dan Pemanjatan Sport/Olahraga

Istilah pemanjatan modern membedakan antara gaya dari petualangan atau pemanjatan tradisional dan olah raga atau “plaisir” pemanjatan.

pemanjatan Petualangan atau “trad” mempunyai unsur-unsur berikut:

· Pencapaian diputuskan oleh besar ketahanan terhadap tekanan yang penting bagi pendakian dari suatu rute.

· Pemanjat bertanggung jawab atas penempatan perlindungan atau apapun yang sudah diperbuat.

· kesalahan yang dibuat oleh pemimpin dapat memiliki konsekwensi yang sangat drastis.

pemanjatan Olahraga/sport atau plaisir ditandai seperti berikut:

· Pencapaian diputuskan oleh nilai teknis dari rute yang dipanjat.

· Unsur kinesthetic merupakan unsur yang dominan.

· Bolts merupakan jaminan yang menyempurnakan perlindungan.

· Jika teknik belaying modern dilakukan dengan baik, leader- jatuhnya cenderung tidak keras(aman).

Gaya dari petualangan dan pemanjatan olahraga dapat diberlakukan bagi semua jenis tali panjat.

Continous Climbing/Pemanjatan berlanjut


Jika pendakian dari suatu rute melibatkan beberapa derajat tingkat keseriusan dan kemunduran dalam mengambil sikap dalam sebuah masalah berkaitan dengan panjangnya atau sifat menggantungnya, itu diklasifikasikan sebagai “continous climbing”(pemanjatan berlanjut. Untuk jenis rute seperti ini memiliki aturan yang sama dengan yang digunakan pada crag climbing.


Bigwall/Aid Climbing

Pemanjatan ini dikembangkan di lembah Yosemite, aktivis menaiki dinding yang tidak bisa di panjat bebas sehingga dirancang peralatan yang di desain khusus. Mereka berkerja keras untuk mengurangi pengeboran lubang untuk penempatan baut atau alat yang lainnya sedapat mungkin, dengan begitu hanya akan meninggalkan sedikit jejak dan pengrusakan setelah pendakian selesai.

Alpine Climbing

Di “Alpine game” aktifis tidak hanya harus berhadapan dengan permasalahan yang diajukan oleh pemanjatan sebenarnya tetapi juga dengan bahaya “objektif” dari suatu lingkungan yang sering menjadi musuh pada pegunungan yang tinggi. Karena survival sering kali tidak hanya tergantung pada kemampuan untuk menguasai masalah-masalah teknis dari suatu rute dengan aman tetapi juga pada kecepatan dan sebuah kesenangan, peraturan yang tidak tertulis dari pemanjatan alpine dengan sederhana mengijinkan penggunaan piton dan chock untuk kemajuan. Bagaimanapun, penerapan prinsip dari pemanjatan bebas telah terus meningkat pada pegunungan yang tinggi. Sedangkan pada awal jaman baru, fokus pada pendakian rute normal dilakukan dengan peralatan, itu tidak memberi banyak kesulitan pemanjatan baru--yang dibangun menurut aturan yang lebih keras. Ini meliputi kedua rute, petualangan yang ekstrim dan olahraga pemanjatan yang hedonistik.

Suatu aspek yang penting dari alpine climbing adalah pendakian dari rute es di pegunungan yang tinggi. Bentangan dari es klasik hingga futuristik yang keras dan serius. Sebuah jenis pemanjatan es yang baru-baru ini menjadi populer adalah pendakian air terjun yang membeku dan stalaktit-es. Pencampuran modern rute batu dan es terkadang membuat gerakan menjadi sangat sulit dengan peralatan crampons dan peralatan-peralatan es lainnya. Permainan yang diatur oleh peraturan dari pendakian bebas. Ada Garisan yang teramat keras ketika memilih melakukannya tanpa loop tangan pada peralatannya. Es dan percampuran rute yang terbentang dari satu pitch pendek hingga operasi pengeboran pada bentangan yang dapat memakan waktu hingga berminggu-minggu.

Pemanjatan Super-Alpine/Super-Alpine Climbing.

Disiplin tehnik mendaki gunung ini menggunakan ketentuan-ketentuan berkenaan dengan pemanjatan alpine untuk daerah yang sangat tinggi pada enam, tujuh dan delapan ribu meter diatas permukaan laut yang disediakan untuk ekspedisi tradisional.

Pemanjatan Ekspedisi/Expedition Climbing

Dua format dari game ini sudah dikembangkan: Variasi yang pertama mempunyai fungsi dari memungkinkan jumlah maksimum anggota dalam mencapai puncak yang bergengsi di rangkaian pegunungan yang tinggi via rute normal. Mereka mengoptimalkan kemungkinan dari kesuksesan melalui kebebasan penggunaan dari kuli pengangkut barang “porter”, tali temali yang ditetapkan dan oksigen tiruan.

Dalam kekontrasannya, format ekstrim dari pemanjatan ekspedisi adalah bekerja keras untuk mendorong batas dari kesukaran teknis dengan bantuan dari peralatan modern yang disediakan: tali temali yang ditetapkan, kemah dan depot peralatan, bahkan oksigen dalam beberapa hal.


Game berbeda dan safety-“philosophies” yang sama sesuai dengan kebutuhan yang berbeda dari individu aktifis tersebut. Kekayaan dari bentuk olahraga gunung menyediakan kesenangan dan pemenuhan diri untuk banyak orang–-suatu fakta yang menyambut kita .

Pada sisi lain, kita menentang kecenderungan dengan sepenuhnya menghapuskan bahaya dari pemanjatan sepanjang garis filosofi “kesenangan” ,dengan begitu mengurangi aspek olahraga ke aspek arah pergerakannya. Karena tanpa bahaya dan ketidak-pastian, pemanjatan kehilangan salah satu unsur pendefinisinya—petualangan. Untuk memanjat suatu rute dengan sedikit peralatan akan selalu lebih sangat dihargai dibanding pendakian dari suatu rute dengan disempurnakan infrastruktur.


Translated from www.uiaa.ch


baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Manajemen Pemanjatan

Dalam pemanjatan tebing, seorang pemanjatat harus mengenal dan menguasai berbagai macam peralatan serta cara pemasangannya dengan baik dan benar, disamping itu pula pemanjatan harus dapat menguasai teknik – teknik yang digunakan dalam pemanjatan. Namun sebelum itu mengetahui medan dengan perencanaan adalah hal yang sangat penting.
Dalam pemanjatan tebing kita memerlukan etika, urutan, cara dan prosedur yang tepat agar menjamin lancarnya kegiatan panjat tebing tersebut. Berikut adalah langkah – langkah yang dilakukan dalam pemanjatan agar mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan.
  1. Pemilihan jalur, jalur yang dipilih kita cari datanya berdasarkan data yang telah ada melalui literatur, informasi dari pemanjat lain dan dari pengamatan langsung melalui orientasi medan / jalur, cara ini sangat efektif karena dapat mengetahui kondisi tebing yang sebenarnya.
  2. Mempersiapkan peralatan, peralatan harus di cek sebelum dan sesudah pemanjatan agar untuk mempermudah dalam pengontrolan alat, peralatan yang dibawa juga harus disesuaikan dengan kondisi medan dan sistem pemanjatan yang digunakan.
  3. Penentuan personil, penentuan personil harus disesuaikan dengan kemampuan, jalur yang dipilih, sistem pemanjatan yang digunakan dan persediaan alat. Dalam penentuan personil, jumlah, kemampuan serta tenaga diatur agar dapat didistribusikan secara tepat agar pemanjatan dapat berjalan dengan lancar.
  4. Mempersiapkan pemanjatan, dalam pemanjatan komunikasi antar para pemanjat sangat penting, sehingga tentukan dahulu jenis komunikasi sebelum melakukan pemanjatan, biasanya dalam bentuk teriakan atau sentakan pada tali dan dapat juga menggunakan peluit.
  5. Memulai pemanjatan, Leader melakukan pemanjatan dari Ground ke pitch pertama dengan membawa dua roll tali sekaligus, satu tali sebagai tali utama yang dikaitkan pada runner pengaman yang telah dipasang oleh leader, tali kedua adalah tali tambat ( fixed rope ) yang berfungsi sebagai tali untuk Jummaringan dan dapat juga digunakan untuk tali transfer.
  6. Cleaning, setelah leader sampai pitch pertama dan memberitahu bellayer / orang kedua yang melakukan pemanjatan dengan membersihkan semua pengaman dengan diamankan oleh leader yang telah beralih tugas menjadi hanging bellayer, sementara personil yang lain melakukan Jummaringan di tali tambat ( fixed rope )
  7. Pemanjatan pitch kedua dan selanjutnya, setelah cleaner sampai di pitch pertama langsung dilakukan persiapan untuk pemanjatan berikutnya, cleaner beralih tugas menjadi leader merintis jalur sampai pitch kedua dan di bellay oleh pemanjat lainnya, setelah leader sampai di pitch kedua cleaner melakukan tugasnya dst...
  8. Abseiling ( Rappelling ), setelah sampai di pitch terakhir maka yang dilakukan adalah turun tebing, dapat turun lewat jalan turun biasa ( way off ) kalau ada atau pemanjat melakukan instalasi untuk rappeling. Rappeling dapat dilakukan dengan tali tunggal ataupun tali ganda. Personil yang turun pertama membawa tali yang lain untuk dipasang pada pitch berikutnya, untuk pemanjatan terakhir sebaiknya melakukan rappeling dengan sistem double rope ( tali dikalungkan pada anchor ) agar tali dapat ditarik ke bawah dengan mudah.
  9. Re – check, setelah semua pemanjat turun, perlu dilakukan pengecekan semua data – data peralatan yang dipakai dalam pemanjatan.
Setelah selesai pemanjatan selanjutnya membuat topo jalur, yang dimaksudkan sebagai pembuatan laporan yang berisikan hal – hal/data – data dalam pemanjatan, juga sebagai bahan presentasi, skets topo dilengkapi dengan nama jalur, lokasi, jenis batuan, tinggi tebing, sistem pemanjatan, teknik pemanjatan, waktu, tingkat kesulitan, data peralatan yang digunakan, daftar pemanjat dan kronologis pemanjatan.


disadur dari O'croth
dari berbagai Sumber

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

PEGANGAN DAN PIJAKAN PADA PANJAT TEBING

Olah raga panjat tebing sebetulnya sama saja dengan olah raga yang lainnya. Prinsipnya olah raga adalah apa-apa yang dilakukan dengan memanfaatkan kerja motorik tubuh. Memanjat juga merupakan usaha untuk menggerakhan motorik tubuh sehingga memanjatpun disebut sebagai olah raga. Tetapi olah raga panjat tebing mempunyai perbedaan dengan olah raga pada umumnya dari segi pealatan dan media olah raganya. Hal ini dikarenakan olah raga panjat tebing mempunyai tingkat kesulitan medan yang cukup tinggi yang tidak kita jumpai pada bentuk olah raga lainnya yaitu media yang dipakai adalah media vertikal dalam artian pemanjat selalu bermain dengan ketinggian, dan melawan grafitasi. Untuk itu demi lancar dan suksesnya dalam menjalani olah raga panjat tebing maka pemanjat harus memiliki serta mengerti prinsip serta etika pamanjatan. Selain memiliki prinsip serta etika pamanjatan, pemanjat juga harus memiliki keberanian, ketelitian serta kemampuan berpikir dalam bertindak dalam keadaan yang kritis. Pamanjat juga harus mempunyai kekuatan serta ketahanan fisik yang bagus dan yang paling penting adalah penguasaan teknik yang matang, karena jika pemanjat tidak mempunyai itu semua sama saja dengan mangantar nyawa (bunuh diri man.....).

Sama halnya dengan berjalan atau berlari, memanjat menggunakan kaki sebagai penopang tubuh serta tangan sebagai penyeimbang. Namun dikarenakan media pemanjatan selalu identik dengan ketinggian yang otomatis akan ada usaha untuk melawan grafitasi yang membuat tubuh kita semakin berat, maka disarankan untuk menghemat gerak sehinga dapat menghemat tenaga.Kegiatan memanjat mengharuskan kita mengeluarkan tenaga yang besar, maka untuk meningkatkan tenaga kita memerlukan latihan-latihan khusus seperti push up, pull up dan latihan kekuatan lainya. Sedangkan untuk menjaga ketahanan (endurance) bisa dilatih dengan melakukan joging dengan porsi yang cukup.

Tebing sebagai media yang akan dipanjat nantinya penuh dengan cacat batuan yang akan digunakan sebagai pegangan maupun pijakan. Untuk melengkapi pengetahuan kita tentang teknik pemanjatan kita juga harus mengenali teknik pegangan serta pijakan yang baik. Beberapa teknik pegangan antara lain:

a. A HAND JAM, yaitu dengan memasukan tangan kedalam celah (besar celah seukuran tangan) dan menggunakan bagian dalam serta luar tangan sebagai friksi pegangan.

b. A FIST JAM, sama seperti a hand jam hanya saja friksi pegangannya menggunakan sisi tangan.

c. A PICH GRIP, caranya dengan mencengkram tonjolan dengan ibu jari sebagai penguncinya.

d. A FINGER LOCK, yaitu sebuah teknik pegangan yang dilakukan dengan memasukan jari-jari tangan pada celah batuan, pegangan seperti ini ada dua macam yaitu dengan hanya empat jari tanpa ibu jari dan semua jari dimasukkan ke celah.

e. TWO FINGER LOCK, teknik pegangan seperti ini biasanya digunakan pada celah tebing yang sempit yang hanya bisa dimasuki oleh dua jari, caranya dengan memasukkan jari telunjuk dan jari tengah dengan cara di tumpuk. (untuk lebih jelasnya lihat gambar)

Sedangkan beberapa teknik pijakan adalah:

a. FRIKSI, adalah gerakan kaki pada bidang yang miskin pijakan yang berguna untuk menambah ketinggian serta membantu keseimbangan tubuh.

b. EDGING, adalah pemanfaatan ujung sepatu untuk mendapatkan pijakan serta menambahkan jangkauan.

c. SMEARING, yaitu penggunaan sisi sepatu luar untuk menambah jangkauan serta membantu keseimbangan.

d. HOOKING, adalah pemanfaatan tumit sepatu untuk mengangkat tubuh, biasanya teknik ini digunakan untuk keluar dari roof. (untuk lebih jelasnya lihat gambar)

Selain teknik pegangan serta pijakan yang dicontohkan diatas masih banyak lagi teknik-teknik yang lain, so kamu harus banyak belajar serta berlatih.


-dari berbagai sumber-blontang-MW-

baca selengkapnya... baca selengkapnya...
free counters

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Indonesian Blogger Suara Petualang Adventure Blogs - Blog Catalog Blog Directory Free Automatic Backlink kostenlose backlinks