Kamis, 06 Juni 2013

Sepotong Surga di Ekor Borneo


Camar Bulan…Temajuk….Paloh…Tanjung Datok…Tapal Batas…..

Desa Temajuk, Surga wisata yang terpendam
Mungkin akhir-akhir ini kita sering mendengar nama beberapa tempat tersebut. Yah, nama-nama tersebut sangat akrab ditelinga kita dan kembali menumbuhkan jiwa nasionalisme kita, ketika pemberitaan di media tentang polemik tapal batas di daerah tersebut. Namun, saya mengesampingkan polemik tersebut, dan saya ingin berbagi cerita tentang sebuah “surga” yang terpendam, sebuah potensi wisata yang terletak di ekor pulau Kalimantan, sebuah surga bagi penikmat keindahan alam, dan surga bagi pemburu moment.

Desa ini secara administatif berada di kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Memiliki garis pantai yang sangat panjang (sekitar +/- 60km) terhampar luas membentang sepanjang pesisir menuju desa Temajuk. Untuk mencapai desa ini tidaklah mudah. Dari Kota Singkawang (tempat saya tinggal), membutuhkan waktu tempuh sekitar 6 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor, dengan jarak tempuh sekitar 200 km. Dari Kota Singkawang menuju ke arah Sambas, kemudian ambil jalur yang menuju Kartiasa. Kondisi jalan aspal dan perjalanan masih mudah ditempuh. Setiba nya di Kartiasa, kita menyeberang sungai menggunakan ferry penyeberangan (KMP.Semah) dengan tujuan Teluk Kalong, dengan tarif Rp.5000,- per motor. Setiba nya di seberang, kita lanjutkan perjalanan menuju arah Paloh. Kondisi jalan masih bagus dan beraspal, hingga desa Liku. Mulai dari Desa Liku, kondisi jalan agak sedikit rusak (medan jalan aspal berlubang) hingga desa Setingga. Selepas desa Setingga, kemudian melewati desa Merbau, dan sampai di Sungai Sumpit. Sekali lagi kita harus menyeberang sungai dengan menggunakan perahu bangkong bermesin 2PK, dengan tariff Rp.10.000,- per motor menuju desa Ciremai.


Dari desa Ciremai, perjalanan sudah tidak jauh lagi, jarak tempuh masih sekitar 50 km. Namun, dari sini lah perjalanan berat itu dimulai. Kondisi jalan aspal yang rusak hingga simpang sungai belacan. Dari Sungai Belacan, jalan mulai agak sedikit baik, sudah mulai ada perkerasan jalan tanah selebar 6 meter sepanjang +/-25 km. Nah, akhir dari jalan tanah kuning ini lah kita akan bertemu dengan jalur ‘neraka’. Jarak menuju Desa Temajuk sudah dekat, hanya tinggal sekitar 10 km lagi. Tapi 10 kilometer ini harus ditempuh dengan perjuangan yang lumayan berat, yaitu medan berpasir gembur, yang bisa membuat kita terjatuh jika kita tidak siap & extra berhati-hati dalam berkendara. Sebenarnya, jika kita sudah mengetahui kondisi medan, kita bisa menggunakan jalur alternative menggunakan jalur pantai, yaitu berkendara di pinggir pantai. Jalur pantai ini bisa kita tempuh dari Tanjung Bendera, ada sebuah jalan semen ke arah pantai, sebelum akhir dari jalan tanah. Dan untuk melewati pinggir pantai ini pun, kita harus mengetahui pasang surut nya pantai, dan bisa kita tanyakan kepada penduduk yang kita jumpai di jalan, jika air laut sedang surut, kita bisa melewati nya, namun jika air pasang, jangan coba-coba lewat jalur pantai jika anda tidak ingin terjebak.

Welcome Temajuk….Selamat Datang di Temajuk…..

Akhir dari perjalanan, akhir dari keletihan, akhir dari keputus-asa-an, akhirnya terbayar ketika tiba di dusun Camar Bulan, Desa Temajuk. Warga yang ramah, menyambut hangat dengan senyuman, dan tentunya panorama yang indah yang siap memanjakan. Untuk penginapan kita bisa menggunakan sebuah villa, Pondok Wisata Teluk Atong Bahari, yang di kelola oleh Pak Atong, salah satu penggiat wisata di desat Temajuk. Cukup dengan bertanya kepada penduduk, maka anda dengan sendiri nya akan dipandu menuju lokasi ini, karena jalan menuju lokasi ini sangat mudah di tempuh. Bagaimana dengan makan…??? Anda tidak perlu khawatir, karena ada beberapa warung makan yang menyediakan menu khas pantai dengan harga yang sangat terjangkau.

Untuk komunikasi, anda tidak perlu khawatir, karena sudah ada menara operator selular dari Telkomsel di desa ini. Untuk listrik, anda juga tidak perlu khawatir, karena hampir setiap rumah punya mesin genset untuk pembangkit listrik disini (listrik dari Negara belum masuk ke desa ini). Untuk berkeliling desa ini, anda bisa menggunakan jasa Pak Atong, dan beliau siap mengantar anda ke setiap sudut tempat wisata yang ada di desa Temajuk.

Kondisi pantai yang masih alami, dengan pantai pasang surut yang exotic,pasir putih yang terhampar luas, gugusan bebatuan granit yang indah, dan bebatuan granit berpadu batuan karang yang exotic, terhampar hingga Tanjung Datuk, memanjakan setiap mata yang berkunjung kesana. Anda juga bisa menikmati pemandangan bawah laut dengan menggunakan snorkel di Teluk Atong. Gugusan bebatuan granit dari yang kecil hingga yang sangat besar bisa anda jumpai di lokasi Batu Pipih, tidak jauh dari penginapan Teluk Atong. Anda juga bisa menikmati suasana indah nya matahari terbenam di dermaga panjang yang ada di dusun Camar Bulan.

Khusus bagi saya, ini adalah sebuah surga. Surga yang indah untuk di abadikan dalam sebuah gambar, surga yang exotic untuk di gali keindahan setiap sudut panoramanya. Surga yang akan menjadi agenda wajib dalam daftar kunjungan. Sebuah surga yang menawarkan keindahan alami, walau harus menempuh jalur ‘neraka’ untuk menemukannya. Semoga desa ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata pantai, yang tentunya harus di tunjang dengan infrastruktur & akses jalan yang layak, dimana anda & keluarga bisa dengan mudah berlibur di pantai Temajuk. Akhir kata, datanglah ke Temajuk & nikmati panorama keindahan pantai Temajuk.


- See more at: http://www.jelajahbumipapua.com/home.php?link=content-detail-tulis&kode=549&jdl=Sepotong.Surga.di.Ekor.Borneo

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Kamis, 18 Agustus 2011

Tentang Sebuah Lagu Pecinta Alam

Pecinta Alam, petualang, pendaki gunung dan penggiat alam bebas lainnya, mungkin sudah pernah mendengar lagu ini. Ada sedikit renungan dalam lagu ini yang mengingatkan kita kembali akan kondisi Alam kita secara umum. Lagu ini sudah cukup lama diperdengarkan dan dalam setiap kali perjalanan petualangan selalu terngiang akan lagu ini.
Sebuah lagu yang merefleksikan akan siapa diri kita yang memproklamirkan diri sebagai seorang "Pecinta Alam". Mungkin saya tidak berpanjang lebar dalam tulisan ini, hanya sekedar untuk mengingatkan kembali dan semoga bermanfaat untuk kelestarian alam.

Pecinta Alam
Pendaki gunung, sahabat alam sejati
Jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan
memploklamirkan dirimu pecinta alam
sementara maknanya belum kau miliki

Ketika aku daki dari gunung ke gunung
Disana ku temui kejanggalan makna
Banyak pepohonan merintih kepedihan
Dikuliti pisaumu yang tak pernah diam

Batu batu cadas merintih kesakitan
ditikam belatimu yang bermata ayal
hanya untuk mengumumkan pada khalayak
bahwa disana ada kibar bendera mu

Oh alam, korban keangkuhan
Maafkan mereka yang tak mengerti arti kehidupan

Untuk lagu nya bisa di download di link ini :
Pecinta Alam (mp3)

Semoga kita semakin sadar dan saling mengingatkan, bahwa Pecinta Alam bukan gelar untuk gagah-gagahan dan sekedar simbol saja.

"Jika Pohon Terakhir sudah ditebang,
Sungai Terakhir Sudah Tercemar,
dan Ikan Terakhir sudah ditangkap,
Maka Manusia akan sadar...
UANG TIDAK DAPAT DIMAKAN"

Salam Lestari,
Yohanes Kurnia Irawan

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Selasa, 09 Agustus 2011

Sembahyang Kubur, Ketika yang Hidup Menghormati Leluhur

Pagi menjelang, namun suasana kuburan yang biasanya sepi ini menjadi ramai seperti tempat wisata. Aroma khas dari dupa (hio) yang dibakar membuat harum suasana disana. Satu keluarga, mulai dari yang tua hingga yang masih balita. Ramai-ramai mereka menuju makam leluhur mereka masing-masing, mengirim bekal untuk mereka yang sudah terlebih dahulu menghadap yang kuasa. Uang emas, uang perak, baju kertas, sepatu kertas, aneka hidangan makanan dan minuman , beberapa batang dupa berpadu tersusun didepan nisan.
Sembahyang kubur di Kota Singkawang dilaksanakan dua kali dalam setahun, yaitu Cheng Beng atau Chiang Miang (dalam bahasa ‘khek’ Singkawang) setiap bulan ke-3 dan Chit Nyiat Pan yang dilaksanakan pada bulan ke-7 dalam penanggalan imlek. Sembahyang kubur merupakan salah satu bentuk penghormatan dari mereka yang masih hidup kepada leluhurnya. Saat yang tepat untuk memohon dan memanjatkan doa agar anak cucu yang hidup di dunia ini diberi kehidupan yang lebih baik dan bahagia. Dari berbagai penjuru para keluarga berdatangan, baik di dalam maupun dari luar negeri, datang menuju kota Singkawang, salah satu kota yang mayoritas penduduknya merupakan etnis Tionghoa.
Salah satu bentuk budaya yang masih diwarisi hingga sekarang, dan akan terus berlangsung,untuk menghormati para leluhur. Budaya yang terus dilestarikan, seiring meningkatnya jumlah polulasi manusia di bumi, sebuah penghormatan yang dilakukan dengan cara tersendiri, sebagai bentuk refleksi bahwa suatu saat nanti mereka yang saat ini masih di bumi juga akan berada ditempat seperti ini, dan keturunan mereka juga akan meneruskan tradisi ini dengan mengirim dan memanjatkan doa nya.

Foto & Text :
Yohanes Kurnia Irawan





baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Minggu, 31 Juli 2011

Wahana Bermain : LUAS tapi BEKAS

Sore yang cerah itu tampak segerombolan anak-anak sedang asyik bermain di sebuah kolam , sambil mandi dan bersenda gurau. Kolam yang airnya berwarna coklat tersebut bertambah keruh ketika anak-anak itu menceburkan diri mereka ke dalam air. Kecerian mereka tercermin dari senyum dan gelak canda tawa mereka yang tak henti terdengar hingga sore menjelang dan mereka pun bergegas pulang.

Salah satu dari segerombolan anak tersebut bernama Arman. Dia adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun dan masih duduk di kelas 4 SD setempat. Arman sedikit bercerita tentang aktivitas mereka di tempat tersebut. Arman dan teman-teman nya tau dan sadar bahwa tempat yang biasa mereka gunakan sebagai wahana bermain tersebut adalah bekas tambang galian emas yang sudah cukup lama ditinggalkan para penambang. Areal bermain mereka ini sangat luas, bahkan ukurannya lebih dari 10 kali ukuran lapangan sepak bola.

Kalimantan merupakan salah satu pulau yang rentan dengan aktivitas alih fungsi lahan, diantaranya adalah akibat aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) dan Kota Singkawang merupakan salah satu wilayah yang menjadi korban aktivitas tersebut. Salah satu dampak yang diakibatkan oleh aktivitas PETI itu adalah berupa kubangan-kubangan raksasa membentuk kolam bahkan danau, dan ditinggalkan begitu saja ketika kandungan lahannya dirasa sudah tidak menghasilkan emas lagi, tanpa ada usaha untuk reklamasi ketika meninggalkan lahan tersebut.

Lokasi yang digunakan Arman dan teman-teman nya untuk bermain ini adalah salah satu dari beberapa lokasi aktivitas PETI yang ada di Kota Singkawang, tepatnya di desa Pajintan, Kecamatan Singkawang Timur. Ada beberapa lokasi lagi di kota Singkawang yang tingkat kerusakannya sudah cukup parah dan belum ada penanganan yang serius dari pemerintah yang terkait untuk menanggulangi masalah ini. Potret masa kecil Arman dan teman-temannya, bermain bersama di wahana yang sangat luas, tapi bekas pertambangan emas tanpa izin.
















Foto dan Teks :
Yohanes Kurnia Irawan

baca selengkapnya... baca selengkapnya...