English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Seri Petualangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seri Petualangan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juli 2009

Pulau Simping, Pulau Terkecil di Dunia ada di Singkawang

Halo sahabat Petualang, apa kabar...??? Tentu baik-baik saja bukan...?? Untuk menepati janji saya beberapa hari yang lalu, maka untuk beberapa edisi kedepan saya akan membuat postingan tentang kegiatan Petualangan selama saya berada di Bumi Khatulistiwa. Dalam postingan kali ini, saya tidak membuat postingan tentang kegiatan pendakian gunung atau panjat tebing disini, karena masih mengatur jadwal yang tepat untuk mendaki bersama teman-teman disini. Kali ini saya akan berbagi cerita Mengenai sebuah Pulau yang konon katanya merupakan Pulau terkecil di Dunia. Wah....??? Bener gak sih...??

Indonesia memang terkenal dengan Negara Archipelago, negara Kepulaan. Pulau Simping. Itulah nama pulau tersebut. Pulau ini terletak di perairan pantai Teluk Mak Jantu, berada di Kecamatan Singkawang Selatan Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Pulau ini termasuk dalam kawasan wisata pantai Sinka Park Island, tempat wisata yang baru 4 tahun ini mulai dikembangkan dikawasan pesisir Kota Singkawang. Untuk dapat mencapai Pulau ini tidaklah sulit. Dari kota Singkawang menuju Pantai Teluk Mak Jantu, atau Sinka Park Island hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 Menit. Jika dari arah Pontianak membutuhkan waktu sekitar 3 Jam perjalanan menuju ke arah Kota Singkawang.

Pulau ini tercatat dan di akui oleh PBB, itu saya ketahui setelah saya membaca plang yang menerangkan hal tersebut, persis di jembatan penyeberangan menuju Pulau Simping. Jembatan....???? Menuju Pulau lewat jembatan....??? Yah, untuk menempu jarak ke Pulau Simping yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari bibir pantai, kita dapat menggunakan jembatan dari Beton yang sengaja di Bangun untuk menuju lokasi Pulau. Untuk pulau itu sendiri tidaklah besar. Saya kurang tau persis luas dari pulau tersebut. Namun, yang unik dari pulau ini adalah adanya terdapat pepohonan dan tumbuhan lain, padahal pulau ini sebagian besar terdiri dari batu. Ketingian pulau ini juga hanya sekitar 1-2 MDPL. Air laut di sekitar pylau dan pantai sangat tenang, karena berada di teluk (daratan yang menjorok ke darat) dan relatif dangkal.

Perjalanan kemarin saya lakukan bersama kedua orang tua saya dan keponakan saya (anak dari abang tertua saya). Jalan-jalan berwisata ketempat yang indah bersama keluarga tentu menyenangkan bukan....??? hehehehhehee... Padahal, 5-6 Tahun yang lalu ketika saya masih di bangku SMA, saya sering memancing di Pantai Teluk Mak Jantu ini. Namun kondisinya tidak seperti sekarang. Waktu cepat berlalu, diiringi pembangunan ditempat ini. Seorang investor swasta membangun tempat ini menjadi sarana wisata umum. Dan tentunya Pulau Simping menjadi ciri khas dan kebanggan tersendiri. Saya sendiri baru mengetahui jika Pulau ini merupakan pulau terkecil di dunia ketika berkunjung kesana hari Jum'at (9 Juli 2009) dan membaca sebuah tulisan yang membuat saya bangga. Bangga sebagai warga kota Singkawang, Bangga sebagai warga Negara Indonesia, dan terlebih lagi saya Bangga sudah menapakkan kaki di Pulau Terkecil di dunia. Dan jangan sampai Pulau kecil Mungil Ini di Caplok dan di klaim negara lain sebagai miliknya. Tugas kita untuk melestarikannya.

Bagi sahabat petualang yang tertarik untuk berkunjung ketempat ini, akses transportasi dan akomodasi sangatlah mudah dan banyak tersedia. Dari Pontianak sahabat petualang dapat menggunakan jasa angkutan bus antar-kota atau menggunakan travel menuju singkawang, dengan kata kunci Teluk Mak Jantu, Sinka Zoo, Sinka Park Island. Untuk penginapan belum tersedia di Kawasan ini. Namun di Kota Singkawang banyak tersedia penginapan mulai dari hotel melati hingga hotel berbintang. Atau jika berkenan menginap di Rumah orang tua saya (kalo kebetulan saya ada di rumah). Dan saya siap menjadi Tour Guide sahabat petualang untuk menikmati kawasan ini maupun tempat wisata alam lainnya.

Sekedar informasi, Pulau Simping ini termasuk dalam kawasan Sinka Park Island, dan bersebelahan dengan Sinka Zoo (Taman Safari dan Kebun binatang) yang berada satu lokasi. View yang di tawarkan juga tidak kalah menarik. Bukit dan Pantai. Jadi dapat menikmati petualangan yang Komplit. Kawasan ini masuk dalam kawasan konservasi dan hutan lindung (sinka zoo).

Oh ya, saya mohon maaf jika dalam penyampaian tulisan ini kurang berkenan untuk dibaca serta acak-acakan. Saya hanya menulis apa adanya yang tertulis dalam benak saya dan mangalir begitu saja seperti air. Untuk itu saya mohon koreksi dari Sahabat Petualang untuk kita dapat berbagi Komentar dalam Postingan ini.

Salam Lestari

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Kamis, 02 Juli 2009

Berpetualang di dalam Gua sambil Memotret

Halo sahabat petualang sekalian....lama blog ini tidak di update, mungkin kesibukan Ujian Akhir Semester di kampus kemarin benar-benar menyita perhatian saya. Oh ya sahabat petualang, dalam postingan kali ini saya ingin Sharing mngenai hasil foto yang saya dapatkan dari berpetualang di dalam perut bumi, tepatnya di sebuah Gua Horizontal yang berada di daerah Imogiri Daerah Istimewa Yogyakarta. Gua ini sangat familiar bagi para teman-teman Mapala di Jogja. Ternyata, selain mendaki gunung hingga dapat julukan si "pendaki" oleh teman-teman, ternyata berada di perut bumi itu mengasyikan. Ok deh, dalam postingan ini saya tidak membahas apa itu gua (cave) beserta ornamen-nya, namun saya hanya ingin berbagi cerita mengenai foto yang saya ambil di dalam gua itu. Karena masih dalam proses Belajar, mungkin masih banyak kesalahan teknis yang ada. Mohon koreksinya ya dari para sahabat petualang sekalian.

Pemotretan kali ini dilakukan sekitar bulan Februari kemarin (udah lumayan lama ya..:). Waktu itu masih dalam rrangkaian kegiatan Diklatsar GAPADRI MAPALA STTNAS Yogyakarta yang ke XXIII (23), kebetulan waktu itu saya sebagai sekretaris panitia. Foto ini di ambil ketika materi lapangan penelusuran gua, di gua Cerme.

Peralatan yang saya bawa cukup sederhana, yaitu :
1. Camera CANON EOS 350D
2. Tripod
3. Headlamp PETZL
4. Drybag (anti air)
5. Lilin
6. Lampu Flash (namun di dalam Gua terjadi troble, sehingga tidak dapat di gunakan)
7. Silica Gel

Teknik yang saya gunakan adalah Slowspeed, menggunakan fitur dengan kecepatan lambat dengan menggunakan tripod.

Dalam suasana gelap abadi (tanpa ada cahaya matahari sedikitpun) dan dalam dingin nya gua, saya mencoba merekam moment ini, namun tidak ada tujuan profit dari foto ini, hanya untuk belajar. Untuk teknik dan cara memotretnya saya pelajari dari seorang senior saya yang memang berkecimpung di dunia Speleologi dan dikenal oleh para Caver (penelusur goa) yang tergabung dalam ASC (Acintyacunyata Speleological Club Yogyakarta), yaitu Mas Abe (Uteng). Dan di blog ini banyak sekali tips & trik untuk memotret didalam gua, maupun teknik penelusurannya.

ini beberapa hasil foto saya :



saya Mohon saran dan komentarnya dari Sahabat Petualang sekalian....Dan mohon maaf jika tulisan saya ini kurang berkenan untuk dibaca...
Terima kasih buat Sahabat Petualang yang berkenan meninggalkan komentarnya

Salam Lestari.

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Selasa, 16 Juni 2009

Pendakian Kedua yang Gagal Mencapai Puncak Mahameru (3.676 M DPL) dan Melawan Jemputan Maut di Kalimati (3.210 MDPL)

Apa hendak dikata, mungkin belum waktunya aku mencapai Puncak tertinggi di Pulau Jawa, gunung yang menjadi impian para pendaki untuk bisa mencapainya (apa iya...???). Petualangan pendakian kali ini cukup berat rintangannya, bukan hanya fisik terkuras habis, namun aku juga melewati masa-masa kritis hampir kehabisan nafas karena terserang Gejala Hipoksia di Pondok Kalimati (3.210 Mdpl). Saya ingin sedikit berbagi cerita ini kepada Sahabat Petualang untuk dapat bersama-sama Sharing tentang perjalan ini. Berikut adalah catatan perjalana Pendakian Gunung Semeru (3.676 MDPL), tanggal 7-11 Juni 2009. Selamat membaca dan tinggalkan sedikit pesan Sahabat Petualang dan Komentarnya.

Rencana pendakian awalnya tidak ke Semeru, namun lebih ke Timur lagi, yaitu Gunung Rinjani. Namun karena statusnya masih ditutup, akhirnya aku bersama team sepakat untuk pendah haluan menuju Semeru. Kendala lain muncul dari team. Awalnya team yang akan berangkat berjumlah 4 orang, namun mendekati hari-H, 2 orang anggota team mengundurkan diri dengan alasan masing-masing. Apa hendak dikata, aku tak kuasa memaksa mereka, karen sesungguhnya mendaki gunung tidak ada unsur pemaksaan, karen tau akan resiko yang akan di hadapi.

Perjalanan dimulai start dari Jogja hari jumat tanggal 5 Juni, berdua aku dengan Afit (rekan team ku) naik Bus "SK" jurusan Jogja-Surabaya (tarif Rp.38.000,-) pukul 22.35 WIB. Setibanya di Surabaya pukul 05.30 pagi hari Sabtu tanggal 6 Juni, aku langsung mencari angkutan menuju Malang. Dengan menggunakan Patas AC (tarif Rp. 15.000,-). Tiba di Malang sekitar pukul 07.30 WIB. Setelah sarapan di terminal Arjosari Malang, aku dan Afit langsung mencari angkutan menuju Tumpang. Oh ya, angkot jurusan Tumpang Arjosari (AT) ini merupakan minibus berwarna putih, dengan tarif Rp.5000,-.

Setibanya di Tumpang aku langsung menuju rumah seorang Sahabat bernama Udin di Tumpang, untuk melepas lelah dan melengkapi perbekalan. Setelah menyantap sate buatan udin, sekitar pukul 15.00 (jam 3 sore), aku dan afit di antar oleh Udin dab temannya menggunakan sepda motor menuju Kantor Perhutani untuk mengurus perijinan pendakian. Setibanya di kantor, Kami mendapat berita yang mencengangkan..!!! Seorang petugas balai mengatakan bahwa gunung Semeru masih ditutup dan belum ada pemberitahuan kapan akan di buka. Kepalang tanggung sudah jauh-jauh perjalanan, akhirnya aku dan afit kembali kerumah Udin. Dirumah kami kemudian mengatur strategi. Alhasil, Udin memberi ide untuk mencoba menelfon balai, berpura-pura dari rombongan dari Jakarta. Ternyata jawaban di telfon sangat mencengangkan..!!!! Ternyata gunung Semeru Telah dibuka untuk Aktivitas Pendakian...!! oh...nasib mujur. akhirnya kami memutuskan untuk menginap di rumah udin, untuk keesokan harinya menuju Ranu Pani.

Pagi-pagi hari minggu tanggal 7 Juni, kami sudah siap (walau agak telat), sekitar pukul 05.15 pagi menuju pasar Tumpang mencari truck pengangkut sayur dan pupuk yang menuju Ranu Pani (tarif Rp.25.000,-). Setibanya di Ranu Pani pukul 08.45 WIB, yang merupakan Entri Point menuju Semeru, kami kembali menghadapi kendala ketika akan mengurus perijinan di posko. Kami diharuskan menggunakan Porter untuk menemani perjalanan kami. Namun karena dana yang terbatas dan sedikit bernegosiasi, akhirnya kami di ijinkan mendaki tanpa Porter menuju jalur Pendakian. Sebelum pendakian, kembali petugas posko mengingatkan jika batas pendakian hanya sampai Kalimati saja, karen status Gunung Semeru yang sudah 3 bulan tidak mengeluarkan letusan (data dari bada Vulkanologi). Sekedar informasi saja, gunung semeru mengeluarkan asap letusan (salvatara) setiap 10-15 menit sekali, dan berbahaya apabila berada dipuncak telalu lama dan melebihi jam 10.00 pagi.

Oke...tanpa berbasa-basi lagi, aku akan memulai petualangan sesungguhnya. Pendakian dimulai pukul 09.30 pagi, melewati Jalur Resmi. Tiba di Pos Shelter pertama, kami sepakat untuk membuat sarapan, akrena perut sudah keroncongan minta diisi. Kemudian pukul 13.00 melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo (Ranu dalam bahasa setempat berarti Danau). Perjalan agak sedikit santai, karen jalur yang ditempuh agak sedikit landai dengan kemiringan tidak lebih dari 10 derajat (bener gak ya...hehehehheee...). Tiba di Ranu Kumbolo pukul 16.46 WIB, langsung mengisi air (karena rencana awal langsung menuju Kalimati). Namun karena kondisi badan sudah mulai lelah dan waktu tempuh menuju Kalimati masih 3 jam lagi, kami pun memutuskan untuk ngecamp (bermalam di Ranu Kumbolo). Dingin menyelimuti malam, ditemani akbut tebal.

Pagi harinya tanggal 8 Juni,pagi hari pertama di gunung, sekitar pukul 07.30 WIB (kebiasaan di gunung hehehehee..) bangun dan mendapati suasana sekitar masih gelap. Ternyata Kabut dengan sangat tebal menyelimuti daerah Ranu Kumbolo, dengan jrak pandang hanya sekitar 3-4 Meter. Aku mulai mempersiapkan peralatan Photography-ku (hanya sebuah kamera Canon EOS 350D beserta lensa kit-nya). Siang harinya setelah sarapan, sekitar pukul 11.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Melewati tanjakan cinta dengan kemiringan hampir 45-60 derajat dan jarak tempuh sekitar 150 Meter, membuat kami kewalahan dan beberapa kali harus berhenti kasena kelelahan. Selanjtnya melewati padang Sabana Oro-Oro Ombo sebelum memasuki Cemoro Kandang (hutan Cemara) dan bukit Jambangan, dan disertai hujan yang awalnya gerimis dan kabut yang cukup tebal, kamipun sampai di Kalimati setelah menempuh perjalanan selama 3 jam lebih.

Kami membuat makanan (masak) untuk menghangatkan badan, setelah sebelumnya berganti pakaian karen pakaian sebelumnya basah kuyup. Wowww....bisa bayangkan sendiri gimana rasa dinginnya di ketinggian 3.210 M DPL, dalam keadaan basah kuyup lagi...huaaawaaaaa...!!!! setelahnya kami pun beristirahat dan mendirikan tenda dome didalam pondok untuk mengurangi rasa dingin yang menyelimuti. Malam pun tiba. setelah terbangun jam 23.00 (karen kami sepakat untuk meuju puncak pada malam itu), kami keluar melihat cuaca. Dan ternyata cerah. Namun karena rasa kantuk dan kelelahan yang mendera, serta hangatnya Sleeping Bag dan selimut yang menggiurkan, kami pun sepakat untuk membatalkan pendakian ke pucak pada malam itu, dan melanjutkan tidur.

Pagi kembali datang, pada hari selasa tanggal 9 Juni. Jam 8 pagi kami bangun dan melihat keadaan sekitar yang ternyata sangat Gelap diselimuti oleh Kabut tebal. Untunglah bagi kami karena tidak melanjutkan perjalanan tadi malam, karena Nyawa kami bisa terancam dengan kondisi Kabut tebal jika turun dari puncak. Seharian tak ada sinar matahari menyelimuti. Sepanjang hari di Kalimati diselimuti oleh Kabut tebal. Dalam benakku aku berfikir (apakah ini pertanda dari Alam....???) yah, sebuah pemikiran untuk membuat suatu keputusan. hingga malam hari baru cuaca cerah, sekitar jam 8 malam, cahaya bulan dan bintang menemani suasana Kalimati di Malam hari. Kami pun kemudian mengatur strategi untuk persiapan keberangkatan ke Puncak pada tengah malam. Sekedar Informasi, untuk meuju Puncak Mahameru disarankan untuk mendaki pada Malam Hari, karena kita tidak boleh berada lama-lama berada dipuncak, dan direkomnedasikan jam 10 pagi harus sudah turun, karena gas Beracun dapat membunuh siapa saja. Jarak dari Kalimati menuju puncak masih sekitar 5-6 jam dengan kecepatan perjalanan standart.

Pukul 11 malam pun tiba, setelah terbangun oleh alarm HP. Kami kemudian melihat kembali dan membaca tanda-tanda alam. Cuca sangat cerah, dan menggiurkan untuk melanjutkan perjalanan. Namun aku mempunyia suatu firasat yang tidak bagus, seolah-olah ada bisikan kepadaku untuk tidak melanjutkan pendakian. dalam batin aku berdoa dan meminta petunju pada yang maha Kuasa (Tuhan Yesus) agar diberi petunujuk. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan.

Dan inilah saat dimana nyawaku terancam. Sedikit saja jika aku lengah dan tertidur, mungkin aku hanya tinggal nama saat itu. Gejala hipoksia (karena kekurangan Oksigen) timbul. Nafasku tersengal-sengal seperti baru habis berlari 10KM. hidung tersumbat, kepala seolah ingin terlepas, begitu sakit. Bahkan untuk menoleh saja dibutuhkan gerakan yang lambat. Perutku terasa mual. Berjuang untuk mendapatkan Oksigen sebanyak-banyaknya. Akhirnya aku membuka pintu Tenda dan mencoba membuat aktivitas. Mulai dari memasak air hinga memasak-nya berulang-ulang untuk sekedar mencari aktivitas dan sedikit menghangatkan diri. Ingin rasannya aku segera turun pada malam itu. Namun aku mencoba bertahan dan berthan, hingga jam 5 pagi aku berusaha berjuang melewati masa yang palng sulit dalam hidupku, sambil tak henti-hentinya aku berdoa mohon perlindungan dan keselamatan. Sementara saat itu teman ku sedang tertidur pulas dan tidak menyadari kondisiku (karena aku tak ingin merepotkan orang lain selagi aku masih bisa bertahan). Akhirnya aku dapat melewatinya, dan dapat memejamkan mata sejenak tidur hingga pukul 9 pagi. Terima Kasih Tuhan...KAU memang maha pengasih dan Penyayang.

Setelah bangun, kami pun langsung Packing dan turun menuju Ranu Pani (Entri Point). Hari itu, Rabu tanggal 10 Juni. Aku dan Afit mulai berjalan turun menyusuri hutan cemara yang sangat teduh dan indah, dengan ditemani suara burung. kami memulai perjalanan jam 10.30 pagi. Kami berjalan dengan santai, lambat, dan sesekali berhenti untuk meinkmati pemandangan sambil berfoto. Tiba kembali di Ranu Kumbolo (2.400 M Dpl), kami pun istirahat sebentar, dan ketemu pendaki lain (hahahha...akhirnya..ketemu manusia lagi..). Kami pun memutuskan untuk bermalam lagi di Ranu Kumbolo dan sepakat untuk turun keesokan paginya. Tak mau kehilngan moment indah di Ranu Kumbolo, aku pun kembali beraksi seperti seorang Fotografer Profesional, jepret sana jepret sini.

Malam pun tiba, malam terakhir di Semeru. Setelah makan malam yang sangat sedikit (karena Logistik Menipis), aku masih saj akelaparan dalam heningnya malam dan kedinginan. SSSsrrrttttt...kudengar ada suara berisik.....!!!!! oh..ternyata ada tikus Hutan...!!!! akupun mulai menghayalkan menyantapnya. Diam-diam kuintai tikus itu, cheetaahzzz...akihrnya dilempar oleh afit menggunakan sendal tepat mengenai Tikus itu. Akupun bergegas menangkpanya dan mulai menguliti tikus tersebut. Yummiii....dapet makanan...asyik banget nih. Dengan bekal pengalaman memasak yang lumayan lah untuk bersaing dengan Chef-chef papan Atas, aku pun memasak daging tikus itu dan menyantapnya...Ueank Tenan...Maknyusss kata mas Bondan.....(hehehhe..kelaperan sih...). Setelah itu akupun Tidur setelah sebelumnya kau berdoa mohon perlindungan.

Pagi harinya tanggal 11 Juni, jam 5 pagi aku sudah bangun untuk memulai perburuan Foto di pagi hari. Beberapa poto aku dapatkan (lumayanlah). kemudian sekitar pukul 8 kami berkmas (packing) dan langsung menuju Ranu Pani melalui jalur Ayek-Ayek. Sekitar pukul 13.00 kami pun tiba di Ranu Pani, kamudian memesan makanan dan menunggu kendaraan (truck) yang akan menuju Tumpang. Muju bagi Kami, Truk pengangkut sayur pun datan menghampiri dan kamipun bergegas naik truk, selanjutnya menuju Tumpang, Kemudian Malang, Surabaya...dan Akhirnya kembali lagi ke JOGJA.....

demikianlah sedikit cerita petualangan saya kali ini. Sangat dibutuhkan Komentar dari para Sahabat Petualang untuk memberikan Komentarnya, demi berlangsungnya petualangan-petualangan selanjutnya oleh saya yang ngaku-ngaku sebagai seorang Petualang (halahh...).

Berfikirlah Sebelum Bertindak, Perhitungkan Resiko terkecil yang akan dihadapi, dan buatlah Keputusan yan sejauh mungkin meninggalkan Resiko.

Pendaki Gunung Bukanlah Penakuk Alam, Bukanlah Penantang....Alam tak Bisa di Taklukkan dan tak Boleh di Tantang....



Salam Lestari,


baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Minggu, 10 Mei 2009

PULAU SEMPU


Pulau Sempu berada di sebelah selatan pulau jawa. Secara geografis pulau ini masuk dalam wilayah Malang bagian selatan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Kepulauan ini dinobatkan sebagai tempat konservasi setelah terjadinya kerusakan hebat di pulau ini yang konon diakibatkan karena tempat ini menjadi lahan atau arena latihan perang para Marinir dan dikhawatirkan akan terjadinya kerusakan yang lebih besar terhadap pulau ini. Pulau sempu mempunyai luas daratan kurang lebih 877 ha yang di dominasi oleh perbukitan karst yang terjal dibagian tepinya. Secara umum kondisi terakhir ekosistem flora dan fauna dari pulau ini masih cukup baik. Untuk dapat menuju pulau sempu dapat ditempuh dari terminal Arjosari kota Malang kita bisa naik kendaraan mini bus ke tujuan pasar Turen dengan harga Rp. 5000,- . Kemudian dilanjutkan dengan naik mikrolet ke tujuan pantai Sendang biru dengan ongkos 15.000,-. Perlu diingat, karena parjalanan menuju pantai Sendang biru cukup jauh dan rawan maka kalian harus start dari Turen paling lambat pukul 16.00 wib. Sendang biru adalah pantai atau desa terakhir sebelum kita menyeberang ke pulau Sempu. Dengan membayar kontibusi Rp. 5000; untuk masuk ke Sendang Biru, kita sudah dapat menikmati keindahan sedang biru, dan dapat melihat apiknya pulau Sempu dari kejauhan. Jika kemalaman sampai di pantai Sendang biru kita bisa menginap di rumah penduduk atau nelayan penyedia jasa penyeberangan setempat. Untuk menuju Pulau Sempu kita dapat mencarter perahu dengan harga sewanya Rp. 75.000,-/perahu atau jika kita beruntung dapet teman untuk menyeberang kita hanya cukup mengeluarkan Rp. 15.000,/orang untuk dapat menyeberang. Tetapi jika ingin menginap/camping dipulau Sempu jangan lupa untuk confirm penjemputan pada penyedia jasa penyeberangan tersebut (jangan sampe nggak looh). Dan tentunya meminta ijin kepada penjaga hutan konservasi setempat (JAGAWANA).
Bagi para penggiat alam bebas, pulau ini cocok untuk pendidikan dan latihan untuk pengembangan keilmuan kepencinta-alaman seperti navigasi darat, survival, pengamatan dan penelitian flora dan fauna dan sebagainya. Di pulau ini juga masih banyak terdapat jenis flora dan fauna yang liar seperti Kijang, Macan nakar, Babi hutan, Berbagai jenis Kera, berbagai jenis burung langka dan menurut cerita dari nelayan pantai Sendang biru dan penjaga hutan
setempat, masih terdapat beberapa harimau di pulau tersebut.
Di dalam pulau Sempu terdapat beberapa danau/telaga yang sering dikunjungi para pengunjung. Diantaranya danau air asin Segara anak dan Telogo lele. Keduanya memiliki karakteristik dan keunikan sendiri-sendiri. Tetapi yang menjadi tempat favorit para petualang adalah Danau air asin Segara anak. Untuk mencapai Danau Segara anak dari dermaga terakhir kita harus berjalan kurang lebih 1-2 jam, tergangtung dari kecepatan jalan kita masing-masing melewati jalan setapak yang agak licin disaat basah. Hutannya masih sangat lebat ditandai dengan gelapnya jalan karena hanya sedikit tertembus matahari, tetapi masih terlihat dengan jelas. Tetapi harus tetap berhati-hati dan waspada terhadap gangguan alam liar. Danau tersebut memiliki eksotisme tersendiri. Mempunyai pantai yang panjangnya hanya sekitar 100 m dengan pasir putih yang menyilaukan mata dan tebing-tebing terjal yang mengelilinginya. Danau tesebut mendapat suplai ain asin dari terowongan/goa (tebing karang yang berlubang) yang ditembus oleh ombak samudra Hindia. Kata sebagian orang sih mirip film The Beach nya Leonardo de Caprio. Kalau beruntung kita dapat melihat para ikan lumba-lumba, hiu hingga paus dari atas bukit dibelakang area camping ground kita. Didalam danaunya pun banyak ikan yang kalo kepepet bisa kita kail dan kita makan, tetapi demi alasan kemanusiaan. Yang penting konservatif bro..jangan serakah.
Tetapi harus selalu diingat bahwa pulau ini adalah Pulau KONSERVASI. Jadi segala tindakan kita tentunya harus disesuaikan dengan aturan yang berlaku. Jangan hanya bisanya buang sampah dan nebang-nebang pohon sembarangan, itu sih udah KUNO dan gak gaul lagi.
“Oya... pulau ini sulit ditemukan air tawar”, maka dari itu sebelum kita masuk ke pulau Sempu baiknya kita membawa air mineral sesuai dengan kebutuhan kita selama berada di pulau tersebut.
Jangan biarkan kedamaian, kelestarian dan keindahan pulau Sempu di renggut oleh pribadi-pribadi yang tidak bertanggung jawab. Tapi jangan cuma pulau Sempu yang kita pedulikan, alam Indonesia masih banyak memerlukan kepedulian kita sebagai pecinta alam, jagan sampai 10 tahun mendatang Indonesia kita jadi gersang. Mari canangkan 1 pohon untuk satu nafas kita sebagai tindak lanjut dari komitmen kita bersama. Mari kita jaga dan rawat bumi Indonesia agar dapat kita nikmati bersama.

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Senin, 20 April 2009

Mount Sindoro (3.153 metres), Central Java

Gunung Sindoro, Jawa Tengah memiliki tinggi 3.153 m dpl, merupakan kembaran gunung Sumbing. Secara administrativ Gn. Sindoro terletak di antara Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo, yang secara geografis terletak antara 8.8 LS dan 111.05 BT. Dari bentuknya, Gn. Sindoro termasuk dalam jenis stratovolcano. Pendakian di Gunung Sindoro dapat dilakukan melalui beberapa jalur, yaitu jalur Kledung dan Sikatok. Pada pendakian ini, aku bersama rekan-rekan ku (octa, dhany dan dancil) merencanakan pendakian melalui jalur Kledung, jalur yang biasa digunakan oleh para pendaki.
Rencana awal pendakian kami adalah tanggal 18-20 Juli, namun karena stock air yang menipis makan kami putuskan turun pada tanggal 19 Juli. Pendakaian diawali berangkat dari terminal Giwangan Jogja sekitar pukul 11.30 WIB menggunakan bus jurusan magelang-semarang (tarif @Rp.8000). Tiba di terminal Tidar Magelang sekitar pukul 13.00, kami turun dan ganti bus jurusan wonosobo menuju desa Kledung (tarif @Rp 10.000). Tiba didesa Kledung pukul 14.45, kami langsung menuju ke BaseCamp GRASINDO yang berjarak sekitar 100m dari jalan raya. Kami melakukan registrasi untuk pendakian dan membayar retribusi (@Rp.2000), kemudian mengisi air (2 jerigen 5L, 4 Botol 1,5) dan makan di basecamp (porsi nasi telur+teh hangat @Rp.4000).
Pendakian kami mulai pukul 16.10 dari Basecamp, melewati kebun tembakau penduduk. Dalam perjalanan menuju Pos I kami melewati Watu Gede, yaitu batu besar yang berada di kebun Tembakau penduduk yang di percaya sebagai pintu gerbang Gunung Sindoro. Udara dingin menyelimuti sepanjang perjalanan kami. Tiba di Pos I sekitar pukul 17.53, kami istirahat sejenak sambil menunggu waktu Maghrib usai. Sekitar pukul 18.10 kami melanjutkan perjalanan menuju Pos II. Hari mulai gelap ketika kami melanjutkan perjalanan. Dalam perjalan kami melewati simpang buntu, jika mengambil jalan lurus merupakan jalan buntu, kami mengambil jalan kekanan, kemudian menuruni lembah melewati sungai kering dan mendaki sedikit kami tiba di Pos II sekitar pukul 19.15. Kami istirahat sejenak sambil memasak air membuat minuman hangat. Perjalanan menuju Pos III kami lanjutkan sekitar pukul 19.35. Beruntung bagi kami karena sepanjang perjalanan kami disinari cahaya dari bulan purnama penuh pada malam itu, sehingga nampak samar gunung Sumbing di seberang sana, pemandangan yang menakjubkan.
Pukul 20.30 kami memutuskan untuk istirahat dan mendirikan tenda diantara Pos II dan Pos III (pos bayangan, kemudian masak untuk makan malam dan membuat minuman hangat. Suasana sepi, hening, disinari cahaya rembulan menambah indah suasana malam itu. Bintang-bintang bercahaya berkedipan menemani sang rembulan. Lampu warna-warni Temanggung menemani indahnya malam. Sambil bercerita dan mengebulkan asap rokok yang menambah akrab suasana. Kami tidur sekitar pukul 23.30, kemudian terbangun pada pukul 04.10 (waktu di HP ku ). Dari jauh sayup-sayup terdengan suara Adzan Subuh dari masjid di desa. Sambil masak air, aku mempersiapkan peralatan Photography menanti sunrise tiba. Namun sayang perlangkapan yang aku bawa tidak lengkap, aku tidak membawa Tripod (memang belum punya), namun aku gak kehabisan akal. Kupakai ceril (ransel) sebagai penyangga camera. Kini Canon EOS 350D dengan Lensa Kit (EF-S 18-55mm 1:3.5-5.6 II) siap untuk merekam sunrise. Pagi itu aku cukup puas mendapatkan beberapa foto sunrise yang muncul di balik Gunung Ungaran. Nampak di kejauhan juga terliahat gunung Merapi dan Merbabu, serta gunung Sumbing yang menjulang tinnggi. Selamat Pagi Indonesia……..
Pukul 06.00 kami masak untuk sarapan setelah itu dilanjutkan dengan membonkar tenda dan packing ulang untuk melanjutkanperjalaan menuju Puncak. Pukul 07.10 kami mulai melanjutkan perjalanan menuju puncak. Pukul 07.55 kami tiba di Camping Ground Pos III. Perjalanan kami lanjutkan melalui hutan pinus dengan medan berpasir yang mengahruskan kami untuk ekstra hati-hati dalam perjalanan. Keluar dari hutan pinus medan yang kami hadapai semakin terjal menuju punggungan yang kami kira sebelumnya adalah puncak. Pukul 09.55 kami tiba di watu tatah selanjutnya melalui padang sabana. Karen beban yang dibawa cukup berat, kami memutuskan meninggalkan barang-barang kami di sabana dan membawa logistic dalam satu ceril untuk bekal ke puncak. Perjalanan pun kami lanjutkan menuju puncak melalui padang Edelweis, dan tepat pukul 12.15 kami tiba di puncak. Lelah dalam perjanan mendaki serasa hilang begitu mencapai puncak. Sambil bersujud kepada yang Maha Kuasa, kami berdoa bersama dalam hati. di Puncak Sindoro Kamera D-SLR ku kembali beraksi merekam moment-moment bersejarah (untuk anak cucu-ku kelak). Pemandangan dari puncak sungguh menakjubkan. Gunung Sumbing berselimutkan awan putih terlihat puncaknya saja kala itu. Kawah mati Sindoro juga tak luput dari rekaman kamera ku. Pukul 12.30 kami masak untuk makan siang dan selanjutnya bersiap-siap untuk turun. Tepat pukul 14.00 kami turun melalui jalur yag kami lewati waktu mendaki.
Dalam perjalanan turun, tak lupa kami singgah untuk mengambil barani-barang yang kami tinggalkan tadi. Dalam perjalanan turun kami bertemu dengan bebrapa rombongan pendaki lain yang akan menuju puncak, yaitu rombongan dari Vetpagama UGM dan Penggiat Alam Bebas dari Bekasi. Pukul 16.00 kami tiba di pos III untuk istirahat sejenak. Selanjutnya menuju Pos II dan Pos I. tiba di kebun Tembakau sekitar pukul 18.10, kabut tebal menyelimuti daerah disitu, jarak pandang maksimal hanya sekitar 3 meter walaupun sudah menggunakjan senter. Kurang lebih 1 jam langkah gontai kami melewati kebun the akhirnya kami tiba di basecamp Grasindo pukul 19.20. rasa lelah dan lapar hilang setelah kami makan malam di basecamp. Selanjutnya kami pamit dan melanjutkan perjalanan pulang menuju Jogja.


“Take Nothing but Picture, Kill Nothing But Time, Leave Noting But Foot Print”

(dari catatan pendakian Yohanes Kurnia Irawan)

the team : yoyon, octa, dani, dancil

18-19 Juli 2008


baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Minggu, 19 April 2009

Mount Slamet (3.432 Metres), Cental Java Indonesia

Gunung Slamet merupakan jenis gunung berapi aktiv yang terdapat di Pulau Jawa (java), Indonesia. Gunung Slamet mempunyai ketinggian setinggi 3.432 mdpl, dan merupakan puncak tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah gunung Semeru. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Pemalang provinsi Jawa Tengah. Gunung Slamet merupakan salah satu gunung yang menjadi tujuan ekspedisi para pendaki, baik dari wilayah setempat maupun wilayah lainnya.

Gunung Slamet terletak di perbatasan Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, dan Brebes. Dengan ketinggian 3432m dpl, membuatnya merupakan gunung berapi yang tertinggi di daerah Jawa Tengah. Gunung ini mempunyai empat kawah di puncaknya. Gunung yang berada di sebelah utara kota Purwokerto dan di sebelah barat kota Purbalingga ini juga mempunyai beberapa sumber air panas.

Jalur Bambangan

Pendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air, walaupun ada itu juga merupakan genangan air. Kepada pendaki sangat disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Faktor lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat. Tetapi Jika anda melewati jalur bambangan, mungkin masalah air tidak terlalu sulit. Memang para pendaki harus banyak membawa air dari bawah, tetapi sesampainya di pos v atau tepatnya di pos Samhyang Rangkah akan terdapat sungai kecil yang letaknya tepat berada di bawah pos V.

Jalur Bambangan adalah jalur yang sangat populer dan merupakan jalur yang paling sering didaki. Route Bambangan merupakan route terpendek dibandingkan route Batu Raden dan Kali Wadas. Dari kota Purwokerto naik bus ke tujuan Purbalingga dan dilanjutkan dengan bus dengan tujuan Bobot sari turun di Serayu. Perjalanan disambung menggunakan mobil bak angkutan pedesaan menuju desa Bambangan, desa terakhir di kaki gunung Slamet.

Di dusun yang berketinggian 1279 mdpi ini para pendaki dapat memeriksa kembali perlengkapannya dan mengurus segala administrasi pendakian. Selepas dari jalan aspal perkampungan belok ke kanan, Pendaki akan menyeberangi sungai dengan cara melompat dari satu batu ke batu yang lain, bila sedang musim hujan aliran air deras akan menutupi batu-batuan ini. Selanjutnya akan melewati ladang penduduk selama 1 jam menuju pos Payung dengan keadaan medan yang terjal.

Pos Payung merupakan pos pendakian yang menyerupai payung raksasa dan masih berada di tengah-tengah perkebunan penduduk, namun saat ini keberadaan Pos itu sudah tidak ada. Selepas pos Payung pendakian dilanjutkan menuju pondok Walang dengan jalur yang sangat licin dan terjal di tengah-tengah lingkungan hutan hujan tropis, selama kurang lebih2 jam. Selepas pondok Walang, medan masih seperti sebelumnya, jalur masih tetap menanjak di tengah panorama hutan yang sangat lebat dan indah, selama kira-kira 2 jam menuju Pondok Cemara.

Sebagaimana namanya, pondok Cemara dikelilingi oleh pohon cemara yang diselimuti oleh lumut. Selepas pondok Cemara pendakian dilanjutkan menuju pos Samaranthu. Selama kira-kira 2 jam dengan jalur yang tetap menanjak dan hutan yang lebat. Samaranthu merupakan pos ke 4. Kira-kira 15 menit dari pos ini terdapat mata air bersih yang berupa sungai kecil. Selepas Samaranthu, medan mulai terbuka dengan vegetasi padang rumput. Pendaki akan melewati Samhyang Rangkah. Terdapat mata air di Pos V ini, jika kita sedikit menuruni lembah di sebelah kiri. yang merupakan semak-semak yang asri. Pendaki juga akan melewati Samhyang Jampang yang sangat indah untuk melihat terbitnya matahari.

Kira-kira 30 menit kemudian pendaki akan tiba di Plawangan. Plawangan (lawang = pintu) merupakan pintu menuju puncak Slamet. Dari tempat ini pendaki akan dapat menikmati panorama alam yang membentang luas di arah timur. Selepas Plawangan lintasan semakin menarik sekaligus menantang, selain pasir dan bebatuan sedimentasi lahar yang mudah longsor pada sepanjang lintasan, di kanan kiri terdapat jurang dan tidak ada satu pohon pun yang dapat digunakan sebagai pegangan.

Di daerah ini sering terjadi badai gunung, oleh karena itu pendaki disarankan untuk mendaki di pagi hari. Kebanyakan pendaki meninggalkan barang-barang mereka di bawah, untuk memperingan beban. Dari Plawangan sampai di puncak dibutuhkan waktu 30- 60 menit. Dari sini pendaki dapat melihat puncak Slamet yang begitu besar dan hamparan kaldera yang sangat luas dan menakjubkan, yang biasa disebut dengan Segoro Wedi. Jalanan terjal berbatu, membuat pendaki harus ekstra hati-hati. Puncaknya merupakan puncak Benteng, sekumpulan batu berbentuk benteng, yang dipercaya oleh penduduk setempat sebagai penahan lahar apabila terjadi letusan. Jika kita turun ke kiri akan menuju Tugu Surono, dan lurus di depan Kawah Aktiv gunung Slamet.

By : Yohanes Kurnia Irawan
Pendakian Gn.Slamet via Bambangan,15-16 September 2008
(the team: Yoyon, Octa, Dani, Dancil)




baca selengkapnya... baca selengkapnya...
free counters

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Indonesian Blogger Suara Petualang Adventure Blogs - Blog Catalog Blog Directory Free Automatic Backlink kostenlose backlinks