English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label survival. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label survival. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Juli 2010

Tips : Bertahan Hidup di Laut

Halo sahabat petualang sekalian, lagi-lagi postingan kali ini saya ingin berbagi tips masih seputar bertahan hidup (survival) untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk apabila kita dihadapkan pada kondisi harus menjadi seorang Survivor. Lagi-lagi mungkin ini artikel kacangan bagi dedengkot petualangan, tapi bagi orang awam mungkin ini bisa sedikit bermanfaat. Kali ini tips nya bukan bertahan di gunung, tebing, arung jeram atau di dalam gua, tetapi di laut. Yah, laut, ini salah satu medan survive yang cukup berat, karena kita mungkin saja hanya bermain dalam hitungan detik untuk segera berfikir bagaimana caranya untuk bisa tetap hidup detik berikutnya.
Berikut ini adalah beberapa tips yang saya rangkum dari beberapa sumber dan salah satunya adalah sumber pada saat saya mengikuti latihan gabungan Water Rescue di Yogyakarta.
Pertama, jika terjadi sesuatu pada pesawat atau kapal yang anda tumpangi mengalami trouble dilaut, usahakan untuk berenang menjauh, terutama jika terjadi ledakan dan api. Menjauh dengan melawan arah angin (untuk itu perlu mengetahui arah angin dalam waktu yg sangat cepat). Jika dipermukaan air terdapat banyak api, berenanglah didalam air (menyelam menuju permukaan air yang aman)
Kedua, selain pelampung, kita bisa menggunakan barang-barang yang yapat mengapung di air. Barang-barang ini biasa terbuat dari plastic, seperti jerigen atau drybox yang dikosongkan (jika menemukan), atau dalam kondisi darurat sementara, bisa menggunakan celana panjan yang disimpul kedua ujungnya dan diisi angin ketika masih berada di atas permukaan air (yang ini bersifat sementara).
Ketiga, jangan panic dan tetap berfikir tenang. Semakin kita panic, kita akan semakin kehilangan banyak tenaga. Berat jenis tubuh lebih rendah dari air laut, sehingga kita akan lebih mudah untuk mengapung. Ketakutakn dan kepanikan hanya akan membuat kita cepat tenggelamdan nafas terburu-buru akan membuat air mudah tertelan. Bernafaslah yang dalam, karena itu akan membuat tubuh menjadi lebih ringan.
Keempat, agar dapat mengambang, usahakan anda tetap berpegangan pada barang-barang yang menjadi tumpuan. Apabila permukaan air cukup tenang, dengan mencelupkan kepala kedalam air dan merentangkan tangan akan membuat tubuh menjadi lebih ringan (posisi tubuh menghadap atas).
Kelima, sebaiknya anda menghindari untuk meminum air laut, karena hal itu justru akan membuat tubuh akan kehilangan cairan dan dehidrasi. Bagi orang-orang tertentu memang ada yang bisa bertahan hidup dengan cara demikian, tapi sebaiknya jangan ditiru secara berlebihan.
Keenam, tetaplah menggunakan sepatu untuk menghindari dan mencegah luka (kecuali sepatu bot). jika ada bagian tubuh yang terasa kram, usahakan memencet bagian tubuh tersebut dengan jempol atau telapak tangan. Akan lebih baik jika ada orang yang bisa menolong. Beri tekanan pada bagian yang kram untuk merenggangkan ototnya.
Ketujuh, jika alat komunikasi masih bisa digunakan (cth:HT/HP), gunakanlah. Tapi kalau memang tidak ada harapan, bisa diupayakan berenang menuju daratan, terutama jika sudah terlihat garis pantai.
Kedelapan, berdoalah semoga anda selamat....

Demikianlah beberapa tips dari saya, mohon maaf jika dalam penyampaiannya menggunakan bahasa yang terlalu sederhana. Pengetahuan dini akan keselamatan dan pertolongan diri sendiri (self rescue) sangant penting apalagi bagi kita yang suka berpergian (travelling), penggiat alam bebas, bahkan orang awam sekalipun sebaiknya membekali diri dengan pengetahuan dasar untuk meminimalisir resiko yang mungkin akan terjadi.

Tetap Tegar, Tetap Semangat…..!!!!
Yohanes Kurnia Irawan
(dari berbagai sumber)
Sumber gambar : http://neoterichovercraft.com/

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Selasa, 13 Juli 2010

Tips : Bertahan Hidup di Hutan

Hallo sahabat petualang, semoga masih tetap semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Postingan kali ini saya ingin berbagi tips cara bertahan hidup di hutan. Bagi dedengkot petualangan (baca: Penggiat petualangan) mungkin artikel ini hanya artikel kacangan saja, tapi bagi sahabat petualangan yang masih awam dalam dunia petualangan atau beraktivitas di alam bebas, mungkin sedikit tips dari saya ini bisa sedikit membantu sahabat petualang apabila suatu saat tersesat atau kehabisan perbekalan (logistik) saat beraktivitas di alam bebas.
Yang pertama, sedapat mungkin kita harus bisa mengenal tempat kita berada dan jumlah perbekalan yang dibawa (yang masih tersisa). Buat langkah-langkah kedepan agar segala sesuatu tindakan berdasarkan prioritas, efektif dan efisien, dengan selalu berfikir efisien maka kita akan lebih percaya diri.
Kedua, hindari kondisi kekurangan cairan tubuh (dehidrasi). Di saat udara panas, bergeraklah perlahan, jangan mengkonsumsi minuman berkafein atau sejenisnya yang justru membuat tubuh kehilangan cairan. Sebaiknya konsumsi makanan yang berkarbohidrat tinggi daripada berprotein tinggi.
Ketiga, gunakanlah air sehemat mungkin. Air bisa diperoleh dari tanaman yang ada dihutan, seperti dasar (pangkal) pohon pisang, rotan, lumut, dan bunga kantong semar. Air hujan dan embun dapat ditampung di jas hujan atau penampang lain yang disalurkan dalam sebuah wadah (botol). Jika menemukan sungai dan ternyata kering, cobalah menggali tanah yang ada dibawah batu disekitar sungai.
Keempat, selalu nyalakan api pada malam hari untuk menghangatkan tubuh dan menghindari binatang (hewan) buas yang mungkin saja ada di hutan itu. Anyaman dedaunan juga bisa dibuat untuk menghangatkan tubuh. Bekali diri dengan tongkat kayu (pentungan) atau golok sebagai persiapan menghadapi binatang buas.
Kelima, jika kehabisan bekal makanan, cobalah untuk mencari dan mengenali jenis-jenis tumbuhan yang bisa dimakan. Blila yakin, ada buah-buahan atau daun-daun liar yang bisa dimakan. Lakukan pengetesan terlebih dahulu pada kulit tangan, bibir atau lidah selama beberapa saat, setelah yakin aman baru dimakan. Hindari tanaman yang berwarna mencolok dan bergetah putih.
Keenam, jika pada bagian tubuh terdapat luka, terus beri tekanan dengan cara mengikat kencang disekitar luka dengan kain yang keras. Hindarkan dan bersihkan luka dari kotoran, karena infeksi yang ditimbulkan oleh luka bisa membuat tubuh lemah.

Demikian beberapa tips dari saya, semoga dapat bermanfaat dan menjadi bahan referensi tambahan sebelum para sahabat petualangan akan melakukan sebuah perjalanan ataupun dalam kondisi ekstrim tersesat di hutan. Siapkan secara matang rencana perjalanan (manajemen perjalanan), untuk mengurangi resiko terburuk yang mungkin saja menimpa kita. Mohon maaf jika dalam penyampaian tulisan ini agak sedikit berantakan, semoga masih berkenan untuk dibaca.

Salam Lestari….
Yohanes Kurnia Irawan
(Dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi)
(foto : pos III Gunung Merbabu via jalur Ngagrong, Ampel Jawa Tengah)

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Selasa, 16 Juni 2009

Pendakian Kedua yang Gagal Mencapai Puncak Mahameru (3.676 M DPL) dan Melawan Jemputan Maut di Kalimati (3.210 MDPL)

Apa hendak dikata, mungkin belum waktunya aku mencapai Puncak tertinggi di Pulau Jawa, gunung yang menjadi impian para pendaki untuk bisa mencapainya (apa iya...???). Petualangan pendakian kali ini cukup berat rintangannya, bukan hanya fisik terkuras habis, namun aku juga melewati masa-masa kritis hampir kehabisan nafas karena terserang Gejala Hipoksia di Pondok Kalimati (3.210 Mdpl). Saya ingin sedikit berbagi cerita ini kepada Sahabat Petualang untuk dapat bersama-sama Sharing tentang perjalan ini. Berikut adalah catatan perjalana Pendakian Gunung Semeru (3.676 MDPL), tanggal 7-11 Juni 2009. Selamat membaca dan tinggalkan sedikit pesan Sahabat Petualang dan Komentarnya.

Rencana pendakian awalnya tidak ke Semeru, namun lebih ke Timur lagi, yaitu Gunung Rinjani. Namun karena statusnya masih ditutup, akhirnya aku bersama team sepakat untuk pendah haluan menuju Semeru. Kendala lain muncul dari team. Awalnya team yang akan berangkat berjumlah 4 orang, namun mendekati hari-H, 2 orang anggota team mengundurkan diri dengan alasan masing-masing. Apa hendak dikata, aku tak kuasa memaksa mereka, karen sesungguhnya mendaki gunung tidak ada unsur pemaksaan, karen tau akan resiko yang akan di hadapi.

Perjalanan dimulai start dari Jogja hari jumat tanggal 5 Juni, berdua aku dengan Afit (rekan team ku) naik Bus "SK" jurusan Jogja-Surabaya (tarif Rp.38.000,-) pukul 22.35 WIB. Setibanya di Surabaya pukul 05.30 pagi hari Sabtu tanggal 6 Juni, aku langsung mencari angkutan menuju Malang. Dengan menggunakan Patas AC (tarif Rp. 15.000,-). Tiba di Malang sekitar pukul 07.30 WIB. Setelah sarapan di terminal Arjosari Malang, aku dan Afit langsung mencari angkutan menuju Tumpang. Oh ya, angkot jurusan Tumpang Arjosari (AT) ini merupakan minibus berwarna putih, dengan tarif Rp.5000,-.

Setibanya di Tumpang aku langsung menuju rumah seorang Sahabat bernama Udin di Tumpang, untuk melepas lelah dan melengkapi perbekalan. Setelah menyantap sate buatan udin, sekitar pukul 15.00 (jam 3 sore), aku dan afit di antar oleh Udin dab temannya menggunakan sepda motor menuju Kantor Perhutani untuk mengurus perijinan pendakian. Setibanya di kantor, Kami mendapat berita yang mencengangkan..!!! Seorang petugas balai mengatakan bahwa gunung Semeru masih ditutup dan belum ada pemberitahuan kapan akan di buka. Kepalang tanggung sudah jauh-jauh perjalanan, akhirnya aku dan afit kembali kerumah Udin. Dirumah kami kemudian mengatur strategi. Alhasil, Udin memberi ide untuk mencoba menelfon balai, berpura-pura dari rombongan dari Jakarta. Ternyata jawaban di telfon sangat mencengangkan..!!!! Ternyata gunung Semeru Telah dibuka untuk Aktivitas Pendakian...!! oh...nasib mujur. akhirnya kami memutuskan untuk menginap di rumah udin, untuk keesokan harinya menuju Ranu Pani.

Pagi-pagi hari minggu tanggal 7 Juni, kami sudah siap (walau agak telat), sekitar pukul 05.15 pagi menuju pasar Tumpang mencari truck pengangkut sayur dan pupuk yang menuju Ranu Pani (tarif Rp.25.000,-). Setibanya di Ranu Pani pukul 08.45 WIB, yang merupakan Entri Point menuju Semeru, kami kembali menghadapi kendala ketika akan mengurus perijinan di posko. Kami diharuskan menggunakan Porter untuk menemani perjalanan kami. Namun karena dana yang terbatas dan sedikit bernegosiasi, akhirnya kami di ijinkan mendaki tanpa Porter menuju jalur Pendakian. Sebelum pendakian, kembali petugas posko mengingatkan jika batas pendakian hanya sampai Kalimati saja, karen status Gunung Semeru yang sudah 3 bulan tidak mengeluarkan letusan (data dari bada Vulkanologi). Sekedar informasi saja, gunung semeru mengeluarkan asap letusan (salvatara) setiap 10-15 menit sekali, dan berbahaya apabila berada dipuncak telalu lama dan melebihi jam 10.00 pagi.

Oke...tanpa berbasa-basi lagi, aku akan memulai petualangan sesungguhnya. Pendakian dimulai pukul 09.30 pagi, melewati Jalur Resmi. Tiba di Pos Shelter pertama, kami sepakat untuk membuat sarapan, akrena perut sudah keroncongan minta diisi. Kemudian pukul 13.00 melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo (Ranu dalam bahasa setempat berarti Danau). Perjalan agak sedikit santai, karen jalur yang ditempuh agak sedikit landai dengan kemiringan tidak lebih dari 10 derajat (bener gak ya...hehehehheee...). Tiba di Ranu Kumbolo pukul 16.46 WIB, langsung mengisi air (karena rencana awal langsung menuju Kalimati). Namun karena kondisi badan sudah mulai lelah dan waktu tempuh menuju Kalimati masih 3 jam lagi, kami pun memutuskan untuk ngecamp (bermalam di Ranu Kumbolo). Dingin menyelimuti malam, ditemani akbut tebal.

Pagi harinya tanggal 8 Juni,pagi hari pertama di gunung, sekitar pukul 07.30 WIB (kebiasaan di gunung hehehehee..) bangun dan mendapati suasana sekitar masih gelap. Ternyata Kabut dengan sangat tebal menyelimuti daerah Ranu Kumbolo, dengan jrak pandang hanya sekitar 3-4 Meter. Aku mulai mempersiapkan peralatan Photography-ku (hanya sebuah kamera Canon EOS 350D beserta lensa kit-nya). Siang harinya setelah sarapan, sekitar pukul 11.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Melewati tanjakan cinta dengan kemiringan hampir 45-60 derajat dan jarak tempuh sekitar 150 Meter, membuat kami kewalahan dan beberapa kali harus berhenti kasena kelelahan. Selanjtnya melewati padang Sabana Oro-Oro Ombo sebelum memasuki Cemoro Kandang (hutan Cemara) dan bukit Jambangan, dan disertai hujan yang awalnya gerimis dan kabut yang cukup tebal, kamipun sampai di Kalimati setelah menempuh perjalanan selama 3 jam lebih.

Kami membuat makanan (masak) untuk menghangatkan badan, setelah sebelumnya berganti pakaian karen pakaian sebelumnya basah kuyup. Wowww....bisa bayangkan sendiri gimana rasa dinginnya di ketinggian 3.210 M DPL, dalam keadaan basah kuyup lagi...huaaawaaaaa...!!!! setelahnya kami pun beristirahat dan mendirikan tenda dome didalam pondok untuk mengurangi rasa dingin yang menyelimuti. Malam pun tiba. setelah terbangun jam 23.00 (karen kami sepakat untuk meuju puncak pada malam itu), kami keluar melihat cuaca. Dan ternyata cerah. Namun karena rasa kantuk dan kelelahan yang mendera, serta hangatnya Sleeping Bag dan selimut yang menggiurkan, kami pun sepakat untuk membatalkan pendakian ke pucak pada malam itu, dan melanjutkan tidur.

Pagi kembali datang, pada hari selasa tanggal 9 Juni. Jam 8 pagi kami bangun dan melihat keadaan sekitar yang ternyata sangat Gelap diselimuti oleh Kabut tebal. Untunglah bagi kami karena tidak melanjutkan perjalanan tadi malam, karena Nyawa kami bisa terancam dengan kondisi Kabut tebal jika turun dari puncak. Seharian tak ada sinar matahari menyelimuti. Sepanjang hari di Kalimati diselimuti oleh Kabut tebal. Dalam benakku aku berfikir (apakah ini pertanda dari Alam....???) yah, sebuah pemikiran untuk membuat suatu keputusan. hingga malam hari baru cuaca cerah, sekitar jam 8 malam, cahaya bulan dan bintang menemani suasana Kalimati di Malam hari. Kami pun kemudian mengatur strategi untuk persiapan keberangkatan ke Puncak pada tengah malam. Sekedar Informasi, untuk meuju Puncak Mahameru disarankan untuk mendaki pada Malam Hari, karena kita tidak boleh berada lama-lama berada dipuncak, dan direkomnedasikan jam 10 pagi harus sudah turun, karena gas Beracun dapat membunuh siapa saja. Jarak dari Kalimati menuju puncak masih sekitar 5-6 jam dengan kecepatan perjalanan standart.

Pukul 11 malam pun tiba, setelah terbangun oleh alarm HP. Kami kemudian melihat kembali dan membaca tanda-tanda alam. Cuca sangat cerah, dan menggiurkan untuk melanjutkan perjalanan. Namun aku mempunyia suatu firasat yang tidak bagus, seolah-olah ada bisikan kepadaku untuk tidak melanjutkan pendakian. dalam batin aku berdoa dan meminta petunju pada yang maha Kuasa (Tuhan Yesus) agar diberi petunujuk. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan.

Dan inilah saat dimana nyawaku terancam. Sedikit saja jika aku lengah dan tertidur, mungkin aku hanya tinggal nama saat itu. Gejala hipoksia (karena kekurangan Oksigen) timbul. Nafasku tersengal-sengal seperti baru habis berlari 10KM. hidung tersumbat, kepala seolah ingin terlepas, begitu sakit. Bahkan untuk menoleh saja dibutuhkan gerakan yang lambat. Perutku terasa mual. Berjuang untuk mendapatkan Oksigen sebanyak-banyaknya. Akhirnya aku membuka pintu Tenda dan mencoba membuat aktivitas. Mulai dari memasak air hinga memasak-nya berulang-ulang untuk sekedar mencari aktivitas dan sedikit menghangatkan diri. Ingin rasannya aku segera turun pada malam itu. Namun aku mencoba bertahan dan berthan, hingga jam 5 pagi aku berusaha berjuang melewati masa yang palng sulit dalam hidupku, sambil tak henti-hentinya aku berdoa mohon perlindungan dan keselamatan. Sementara saat itu teman ku sedang tertidur pulas dan tidak menyadari kondisiku (karena aku tak ingin merepotkan orang lain selagi aku masih bisa bertahan). Akhirnya aku dapat melewatinya, dan dapat memejamkan mata sejenak tidur hingga pukul 9 pagi. Terima Kasih Tuhan...KAU memang maha pengasih dan Penyayang.

Setelah bangun, kami pun langsung Packing dan turun menuju Ranu Pani (Entri Point). Hari itu, Rabu tanggal 10 Juni. Aku dan Afit mulai berjalan turun menyusuri hutan cemara yang sangat teduh dan indah, dengan ditemani suara burung. kami memulai perjalanan jam 10.30 pagi. Kami berjalan dengan santai, lambat, dan sesekali berhenti untuk meinkmati pemandangan sambil berfoto. Tiba kembali di Ranu Kumbolo (2.400 M Dpl), kami pun istirahat sebentar, dan ketemu pendaki lain (hahahha...akhirnya..ketemu manusia lagi..). Kami pun memutuskan untuk bermalam lagi di Ranu Kumbolo dan sepakat untuk turun keesokan paginya. Tak mau kehilngan moment indah di Ranu Kumbolo, aku pun kembali beraksi seperti seorang Fotografer Profesional, jepret sana jepret sini.

Malam pun tiba, malam terakhir di Semeru. Setelah makan malam yang sangat sedikit (karena Logistik Menipis), aku masih saj akelaparan dalam heningnya malam dan kedinginan. SSSsrrrttttt...kudengar ada suara berisik.....!!!!! oh..ternyata ada tikus Hutan...!!!! akupun mulai menghayalkan menyantapnya. Diam-diam kuintai tikus itu, cheetaahzzz...akihrnya dilempar oleh afit menggunakan sendal tepat mengenai Tikus itu. Akupun bergegas menangkpanya dan mulai menguliti tikus tersebut. Yummiii....dapet makanan...asyik banget nih. Dengan bekal pengalaman memasak yang lumayan lah untuk bersaing dengan Chef-chef papan Atas, aku pun memasak daging tikus itu dan menyantapnya...Ueank Tenan...Maknyusss kata mas Bondan.....(hehehhe..kelaperan sih...). Setelah itu akupun Tidur setelah sebelumnya kau berdoa mohon perlindungan.

Pagi harinya tanggal 11 Juni, jam 5 pagi aku sudah bangun untuk memulai perburuan Foto di pagi hari. Beberapa poto aku dapatkan (lumayanlah). kemudian sekitar pukul 8 kami berkmas (packing) dan langsung menuju Ranu Pani melalui jalur Ayek-Ayek. Sekitar pukul 13.00 kami pun tiba di Ranu Pani, kamudian memesan makanan dan menunggu kendaraan (truck) yang akan menuju Tumpang. Muju bagi Kami, Truk pengangkut sayur pun datan menghampiri dan kamipun bergegas naik truk, selanjutnya menuju Tumpang, Kemudian Malang, Surabaya...dan Akhirnya kembali lagi ke JOGJA.....

demikianlah sedikit cerita petualangan saya kali ini. Sangat dibutuhkan Komentar dari para Sahabat Petualang untuk memberikan Komentarnya, demi berlangsungnya petualangan-petualangan selanjutnya oleh saya yang ngaku-ngaku sebagai seorang Petualang (halahh...).

Berfikirlah Sebelum Bertindak, Perhitungkan Resiko terkecil yang akan dihadapi, dan buatlah Keputusan yan sejauh mungkin meninggalkan Resiko.

Pendaki Gunung Bukanlah Penakuk Alam, Bukanlah Penantang....Alam tak Bisa di Taklukkan dan tak Boleh di Tantang....



Salam Lestari,


baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Senin, 20 April 2009

KETERAMPILAN DAN PENGETAHUAN YANG HARUS DIMILIKI DALAM JUNGGLE SURVIVAL

Membuat Bivouack (Shelter)
Membuat bivouck atau shelter perlindungan dalam keadaaan darurat sebenarnya bertujuan untuk untuk melindungi diri dari angin, panas, hujan, dingin dan gangguan binatang.
Macam –macam bivouack :
  1. Shelter asli alam ; Gua (yang bukan tempat persembunyian binatang, tidak ada gas beracun dan tidak mudah longsor). Ingat ! didalam gua jangan berteriak karena dapat meruntuhkan dinding gua.
  2. Shelter buatan dari alam ; daun-daunan yang lebar, ranting kayu, atau separuhnya alam dan separuhnya butan (misalnya ponco di kombinasi dengan ceruk batu atau pohon tumbang atau ranting kayu)
Syarat bivouack :
  • Hindari daerah aliran air [bila terpaksa, maka gunakan bivouck panggung]
  • Di atas bivouck / shelter tidak ada dahan pohon mati/rapuh
  • Bukan sarang nyamuk/serangga
  • Bahan kuat
  • Jangan terlalu merusak alam sekitar
  • Terlindung langsung dari angin
Mengatasi Gangguan Binatang
Nyamuk ; Obat nyamuk, autan, dll , Bunga kluwih dibakar, Gombal / kain butut [dalam keadaan memaksa, penulis pernah memotong lengan baju kaos sebagai pengganti gombal] dan minyak tanah dibakar kemudian dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk , Gosokkan sedikit garam pada bekas gigitan nyamuk
Laron ; Mengusir laron yang terlalu banyak dengan cabe yang digantungkan
Disengat Lebah ; Oleskan air bawang merah pada luka bekas sengatan berkali-kali, Tempelkan tanah basah/liat di atas luka sengatan, Jangan dipijit-pijit, Tempelkan pecahan genting panas di atas luka, Olesi dengan petsin untuk mencegah pembengkakan
Gigitan Lintah ; Teteskan air tembakau pada lintahnya, Taburkan garam di atas lintahnya, Teteskan sari jeruk mentah pada lintahnya, Taburkan abu rokok di atas lintahnya, Membuang [mengais] lintah upayakan dengan patahan kayu hidup yang ada kambiumnya.
Semut Gatal ; Gosokkan obat gosok pada luka gigitan, Letakkan cabe merah pada jalan semut, Letakkan sobekan daun sirih pada jalan semut
Kalajengking dan lipan; Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar, Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit, Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka, Taburkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka, Taburkan garam di sekeliling bivouck untuk pencegahan
Ular dll ; Untuk mencegah dan mengobati secara darurat gigitan dan sengatan binatang berbisa mematikan harus mempelajari Emergency Medical Care [EMC]

Membaca Jejak
Ada beberapa jenis jejak yang dapat diidentifikasi, yaitu jejak buatan, maksudnya adalah jejak yang dibuat oleh manusia dan jejak alami yaitu tanda jejak sebagai tanda keadaan lingkungan.
Jejak alami biasanya menyatakan tentang jenis binatang yang lewat dan ada disekitar, arah gerak binatang, besar kecilnya binatang, cepat lambatnya gerak binatang. Untuk membaca jejak alami [binatang] dapat diketahui dari telapak yang ditinggalkan, kotoran yang tersisa, pohon atau ranting yang patah, lumpur atau tanah yang tercecer di atas rumput.

Air
Seseorang dalam keadaan normal dan sehat dapat bertahan sekitar 20 – 30 hari tanpa makan, tapi orang tersebut hanya dapat bertahan hidup 3 - 5 hari saja tanpa air.Ada air yang tidak perlu dimurnikan, seperti air hujan langsung. Untuk memperoleh air hujan langsung dalam keadaaan sirvive di alam bebas, maka dapat dengan cara memampung dengan ponco atau daun yang lebar dan alirkan ke tempat penampungan (nesting atau vedples)
Air dari tanaman rambat/rotan atau bambu. Cara memperolehnya, yaitu potong setinggi mungkin lalu potong pada bagian dekat tanah, air yang menetes dapat langsung ditampung atau diteteskan ke dalam mulut. Selain rotan, bambu dan tumbuhan rambat, air juga dapat diperoleh pada bunga (kantung semar) dan lumut. Air yang harus dimurnikan terlebih dahulu antara lain adalah air sungai besar, air sungai tergenang, air yang didapatkan dengan menggali pasir di pantai (+ 5 meter dari batas pasang surut). Untuk mendaptkan air di daerah sungai yang kering, caranya dengan menggali lubang di bawah batuan.
Berikutnya air juga dapat diperoleh dari batang pisang, caranya tebang batang pohon pisang, sehingga yang tersisa tinggal bawahnya [bongkahnya] lalu buat lubang ditengahnya maka air akan keluar, biasanya dapat keluar sampai 3 kali pengambilan.

Makanan
Dalam kondisi hidup dialam bebas ada berbagai makanan yang dapat di konsumsi, tetapi harus memperhatikan beberapa syarat dan patokan berikut :
  • Makanan yang di makan kera juga bisa di makan manusia
  • Hati-hatilah pada tanaman dan buah yang berwarna mencolok
  • Hindari makanan yang mengeluarakan getah putih, seperti sabun kecuali sawo dan pepaya.
  • Tanaman yang akan dimakan di coba dulu dioleskan pada tangan, lengan, bibir dan atau lidah, tunggu sesaat. Apabila terasa aman bisa dimakan.
  • Hindari makanan yang terlalu pahit atau asam
Catatan:
Hubungan air dan makanan; Untuk makanan yang mengandung karbohidrat memerlukan air yang sedikit, Makanan ringan yang dikemas (ex: mie instan) akan mempercepat kehausan, Makanan yang mengandung protein butuh air yang banyak.

Tumbuhan yang dapat dimakan dapat diketahui dari ciri-ciri fisik, misalnya : Permukaan daun atau batang yang tidak berbulu atau berduri, tidak mengeluarkan getah yang sangat lekat, tidak menimbulkan rasa gatal, hal ini dapat dicoba dengan mengoleskan daunnya pada kulit atau bibir dan tidak menimbulkan rasa pahit yang sangat (dapat dicoba di ujung lidah)

Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa batangnya :
  • Batang pohon pisang (putihnya)
  • Bambu yang masih muda (rebung)
  • Pakis dalamnya berwarna putih
  • Sagu dalamnya berwarna putih
  • Tebu
Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa daunnya :
  • Selada air
  • Rasamala (yang masih muda)
  • Daun mlinjo
  • Singkong
Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa akar dan umbinya :
  • Ubi jalar
  • talas
  • singkong
Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa Buahnya :
  • Arbei,
  • asam jawa,
  • juwet
Tumbuhan yang dapat dimakan seluruhnya :
  • Jamur merang,
  • jamur kayu.
Tetapi ada beberapa jenis jamur mempunyai beracun yang ciri-cirinya adalah :
  • Mempunyai warna mencolok
  • Baunya tidak sedap
  • Bila dimasukkan ke dalam nasi, nasinya menjadi kuning
  • Sendok menjadi hitam bila dimasukkan ke dalam masakan
  • Bila diraba mudah hancur
  • Punya cawan/bentuk mangkok pada bagian pokok batangnya
  • Tumbuh dari kotoran hewan
  • Mengeluarkan getah putih
Selain tumbuhan, berbagai hewan yang ditemukan di alam dapat dimakan juga, misalnya Belalang, Jangkrik, Tempayak putih (gendon), Cacing, burung, Laron, Lebah, larva, Siput/bekicot, Kadal [bagia belakang dan ekor], Katak hijau, Ular [1/3 bagian tubuh tengahnya], Binatang besar lainnya.

Ada beberapa ciri binatang yang tidak dapat dimakan, yaitu :
  • Binatang yang mengandung bisa : lipan dan kalajengking
  • Binatang yang mengandung racun : penyu laut
  • Binatang yang mengandung bau yang khas : sigung / senggung
Api
Bila mempunyai bahan untuk membuat api, yang perlu diperhatikan adalah jangan membuat api terlalu besar tetapi buatlah api yang kecil beberapa buah, hal ini lebih baik dan panas yang dihasilkan merata.
Cara membuat api dalam keadaan darurat :
  • Dengan lensa / Kaca pembesar (luv) ; Fokuskan sinar pada satu titik dimana diletakkan bahan yang mudah terbakar.
  • Gesekan kayu dengan kayu ; Cara ini adalah cara yang paling susah, caranya dengan menggesek-gesekkan dua buah batang kayu sehingga panas dan kemudian dekatkan bahan penyala, sehingga terbakar
  • Busur dan gurdi ; Buatlah busur yang kuat dengan mempergunakan tali sepatu atau parasut, gurdikan kayu keras pada kayu lain sehingga terlihat asap dan sediakan bahan penyala agar mudah tebakar. Bahan penyala yang baik adalah kawul / sabut terdapat pada dasar kelapa, atau daun aren
dari berbagai sumber

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Sikap Dalam Survival

Sikap cepat tanggap dalam keadaan darurat sangat diperlukan. Setiap orang harus dapat berbuat yang terbaik dalam memprioritaskan pandangan terhadap lingkungan darurat. Hal ini tidak mudah karena sikap ini perlu latar belakang pengetahuan dan keterampilan. Bila semua prioritas telah diperoleh, tetapi masih kehilangan kemauan untuk hidup atau kemampuan untuk menguasai mental yang disebabkan kondisi fisik, maka akhirnya akan hilang sama sekali. Kondisi yang demikian sangat membahayakan dan bahkan sesuatu yang menguntungkan pun akan dibuangnya. Juga yang perlu diingat janganlah meremehkan sesuatu yang anda lihat. Sikap mental positif sangat diperlukan untuk menganalisa semua yang bertentangan dengan tubuh.

Apa saja yang berguna dalam mengha- dapi situasi survival dapat dilihat dalam dua persoalan :
1.Kesiapan mendiskusikan dengan jelas "apakah anda ingin hidup ?", ungkapan yang sederhana. Secara naluriah manusia mempunyai insting untuk menjaga diri. Banyak kegiatan survival yang menunjukkan adanya jalan keluar dari periode fisik ekstrem dan mental stress ke posisi tenang. Sadar atau tidak orang mempunyai kekuatan untuk dirinya sendiri terhadap kematian. Oleh karena itu setiap orang juga mempunyai kekuatan untuk dirinya sendiri terhadap kehidupan.
2.Kemampuan untuk memecahkan persoalan, hal ini didapat jika kita mampu mempertahankan kondisi tubuh. sebagai contoh : tubuh manusia bekerja optimum dengan temperatur 37 derajat C. Mengabaikan temperatur lingkungan akan menyebabkan penyempitan susunan fungsi inti didalam tubuh yang efektivitasnya tinggi yang pada akhirnya akan mengganggu peredaran darah, menurunkan aktivitas sel, dan akhirnya otak cepat kehilangan hubungan dengan realitas, akhirnya bertindak irrasional berbarengan dengan turunnya koordinasi yang akhirnya berakibat fatal. Pengetahuan dan pengalaman tidak ada artinya kalau tubuh hanya bekerja dengan separuh kemampuannya, penghematan sumberdaya seperti energi, panas dan air adalah penting.

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

PENGETAHUAN DASAR SURVIVAL

Survival berasal dari kata survive yang berarti mampu mempertahankan diri dari keadaan tertentu. Dalam hal ini mampu mempertahankan diri dari keadaan yang buruk dan kritis. Sedangkan Survivor adalah orang yang sedang mempertahankan diri dari keadaan yang buruk. Survival adalah keadaan dimana diperlukan perjuangan untuk bertahan hidup. Survival merupakan kehidupan dengan waktu mendesak untuk melakukan improvisasi yang memungkinkan. Kuncinya adalah menggunakan otak untuk improvisasi. Statistik membuktikan hampir semua situasi survival mempunyai batasan waktu yang singkat hanya 3 hari atau 72 jam bagi orang hilang, dan yang mampu bertahan cukup lama tercatat sangat sedikit sekitar 5 persen itupun karena pengetahuan dan pengalamannya.
Dalam situasi survival janganlah tergesa-gesa menentukan prioritas survival karena dapat berakibat salah, gagasan kaku yang tidak boleh ditawar-tawar juga akan berakibat fatal. Ketepatan memutuskan dengan didukung pengalaman dan hasil diskusi dapat menguntungkan karena situasi darurat perlu pertimbangan dan sikap tegas dalam mencapai tujuan akhir. Dalam keadaan survival diperlukan pengetahuan terhadap kondisi dan kebutuhan tubuh, bukan mutlak mengerti secara fisik tetapi memahami reaksi atau dampak akibat pengaruh lingkungan. menggunakan pengetahuan dalam usaha mengatur diri saat keadaan darurat adalah kunci dari survival. Pengaturan disini adalah memelihara ketrampilan dan kemampuan untuk mengontrol sumber daya didalam diri dan kemampuan memecahkan persoalan, bila pengaturan keliru, tidak hanya badan terganggu akan tetapi dapat langsung berdampak terhadap kemampuan untuk tetap hidup. Memahami jenis kebutuhan hidup yang menjadi prioritas sangat menguntungkan didalam situasi survival.
Dalam kondisi survival tantangan yang sangat dominan adalah sikap mental atau psikologis untuk mencari kebutuhan tubuh dan untuk memperolehnya dibutuhkan gagasan-gagasan dengan dasar pertimbangan dari pengalaman atau pendidikan yang pernah diikutinya, pengalaman hidup dengan resiko tinggi dan aktivitas menantang terbukti dapat membuat orang belajar untuk berbuat yang lebih baik dan melakukan adaptasi efektif.

Berikut adalah contoh susunan prioritas dalam keadaan survival :
  1. Tentunya yang paling utama adalah udara. bernafas dilakukan setiap detik untuk bertahan hidup oleh karena itu udara mendapat prioritas utama untuk bertahan hidup. survival tanpa udara umumnya hanya bertahan selama 3 sampai 5 menit.
  2. Selanjutnya dibutuhkan perlin-dungan, dari cuaca buruk dan keganasan alam. sejak keberadaannya manusia dibatasi lingkungannya sendiri mulai dari temperatur yang sangat berpengaruh pada tubuh. Untuk itu diperlukan sesuatu yang dapat melindunginya contohnya api yang dapat menghangatkan dan menjaga temperatur tubuh, jika tidak ada rumah, tenda atau gua. Api dapat dimasukkan kedalam prioritas kedua
  3. Istirahat, sepele namun dibutuhkan, dengan istirahat jaringan tubuh akan terbebas dari CO2, asam dan pemborosan lain. Istirahat yang dimaksud adalah istirahat fisik dan juga mental sebab stress dapat mengurangi kemampuan untuk bertahan. Dengan demikian istirahat dapat dimasukkan kedalam prioritas ketiga.
  4. Air. Kehilangan cairan dan kondisi air yang tidak dapat diminum adalah persoalan didalam survival. Tubuh manusia kira-kira terdiri dari 2/3 jaringan yang mengandung air dan merupakan bagian sistem sirkulasi di dalam organ tubuh. Air dapat menjaga suhu tubuh, memperlancar buang air dan mencerna makanan. Kondisi lingkungan yang exstrem tanpa air dapat mengurangi kemampuan bertahan hidup hingga tiga hari, sehingga air dapat dimasukkan kedalam prioritas keempat. Sangatlah bijaksana apabila pemakaian air dapat dihemat.
  5. Tubuh manusia membutuhkan makanan tiga kali sehari. Tetapi sementara banyak manusia di benua lain hanya dapat makan sekali sehari atau bahkan tidak makan berhari-hari. Catatan menunjukkan bahwa tanpa makanan survivor dapat bertahan selama 40 sampai 70 hari. Keharusan untuk mendapatkan makanan adalah prioritas terakhir dalam survival. Penghematan energi adalah salah satu cara untuk mengimbangi kekurangan makanan.

baca selengkapnya... baca selengkapnya...
free counters

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Indonesian Blogger Suara Petualang Adventure Blogs - Blog Catalog Blog Directory Free Automatic Backlink kostenlose backlinks