English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Mountaineering. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mountaineering. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2009

Wapalhi Tradisi Merapi 2009

Mendaki gunung memang kegiatan yang mengasyikan dan penuh tantangan. Selain kita dapat menikmati pemandangan yang indah, kita juga harus berjuang keras untuk dapat mencapai puncak. Melewati jalan setapak, jalur berliku, berbatu, berdebu, mulai dari jalan yang mudah dilewati hingga yang memerlukan keahlian khusus. Itulah seni mendaki gunung. Berikut adalah liputan reporter KAONAK saat meliput kegiatan pendakian masal yang digagas oleh Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup (WAPALHI) Polines Semarang saat melaksanakan pendakian massal ke Gunung Merapi (2.962 mdpl) tanggal 2-3 Mei 2009, serta melaksanakan ritual khusus di Merapi.

Hari Sabtu sore yang cerah, tanggal 2 Mei 2009 sekitar pukul 15.30 saya sudah sampai di basecamp Bara Meru, basecamp yang biasa digunakan oleh para pendaki melalui jalur Selo, Boyolali. Ternyata rekan-rekan WAPALHI tidak menggunakan basecamp ini, melainkan basecamp bawah dengan menggunakan rumah penduduk dan mendirikan tenda untuk menampung para peserta untuk kegiatan malam harinya. Sekitar pukul 19.00 para peserta beserta tim dari WAPALHI sudah berkumpul, kemudian makan malam bersama, dan dilanjutkan dengan nonton bersama film petualangan. Suasana keakraban menyelimuti malam itu, hingga akhirnya mereka semua diminta untuk tidur dan beristirahat di basecamp yang disediakan.

Menurut ketua paitia, Prabowo “klowor”, peserta pendakian pada kegiatan kali ini berjumlah sekitar 200 orang dari berbagai kalangan, yang mayoritas berasal dari Semarang dan berangkat dengan menggunakan kendaraan truck. Pendakian rencananya akan dilakukan mulai pukul 02.00 pagi. Namun saya berinisiatif untuk terlebih dahulu naik pada malam itu dan menunggu peserta pendakian diatas sebelum pasar bubrah.
Keesokan harinya, minggu pagi peserta pendakian sudah kelihatan ada yang mencapai pasar bubrah. Mereka dibagi dalam beberapa tim untuk mempermudah pengawasan. Tiba di pasar bubrah, peserta beristirahat sejenak, sebelum melanjutkan pendakian melewati jalan terjal bebatua menuju puncak Merapi.

Rekan-rekan dari WAPALHI hanya beberapa orang saja yang mengawasi para peserta di puncak, Karena mereka harus melakukan ritual rutin di lokasi pasar bubrah, yaitu pelantikan Kepala Suku Wapalhi periode 2009-2010. Ada beberapa kandidat Kepala Suku yang akan dilantik, namun tentunya hanya satu orang yang akan menjadi kepala suku. Kandidatnya antara lain Ardian Muhammad “lembu, Irfan Jasa Putra “Kluak”, Yoga Sutop[o “Benyek”, Muhammad Anwar Kaspul” dan Sukma Ardianto “siMbah”. Dan pada saat yang ditunggu-tunggu, akhirnya saudara Adrian Muhammad “Lembu” dilantik menjadi Kepala Suku WAPALHI Periode 2009-2010.

“Sebuah langkah awal yang berat menuju puncak kesuksesan, tapi tetap semangat”, ungkap Lembu ketika saya wawancarai. “dukungan dari teman-teman WAPALHI sangat dibutuhkan untuk kemajuan WAPALHI secara khusus dan kita semua secara umum”, tambah Lembu.
Antusis peserta juga mengagumkan, karena saat ini jarang sekali ada yang mengadakan kegiatan pendakian pendakian massal. “Saya kagum, senang banget, dan saya juga salut sama WAPALHI yang setiap tahun bisa menyelenggarakan tradisi ini setiap tahunnya”, ujar Muhammad Ali Akso, salah seorang peserta pendakian missal ini yang notabene adalah ketua Forum Pecinta Alam Semarang (semacam Sekber kalo di Jogja). “dari pendakian missal ini diharapkan kita bisa berkumpul lagi dalm forum pecinta alam dan melakukan kegiatan bersama”, tambah Ali Akso yang juga anggota Matepala ATS Semarang ini.

Peserta pendakian mulai turun sekitar pukul 12.00 menuju basecamp, hingga peserta terakhir yang melewati flying camp saya sekitar pukul 15.00, diikuti oleh sweeper. Selain melakukan pendakian dan ritual di Gunung Merapi, ternyata ada agenda lain dari rekan-rekan WAPALHI yaitu bakti social di desa Selo, yaitu berupa penyerahan tong sampah, alat-alat kebersihan, sapu serta bibit sebanyak 200 batang.
Wah, ternyata mendaki gunung tidak hanya sekedar mendaki saja ya, kita juga harus peduli pada warga sekitar jalur pendakian. Contoh kecil yang dapat kita lakukan adalah tidak mencorat-coret tembok, pohon atau batu. Seain itu kita juga sebaiknya membuang sampah pada tempatnya, untuk menjaga keindahan dan kelestarian lingkungan kita.

Selamat buat Kepala Suku WAPALHI yang baru, semoga membawa harapan baru dan perubahan baru untuk kemajuan WAPALHI. Salam Lestari…..

PECINTA ALAM BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN

Report by : Yohanes Kurnia Irawan
Untuk KAONAK edisi-54
Media Informasi Independen
GAPADRI MAPALA STTNAS YOGYAKARTA

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Selasa, 26 Mei 2009

Sekilas Tentang Navigasi Darat

Pengetahuan umum tentang kegiatan petualangan merupakan hal yang mutlak dimiliki oleh para penggemar kegiatan alam bebas. Salah satunya adalah pengetahuan dalam membaca peta dan kompas, atau yang lebih dikenal dengan ilmu navigasi darat. Dalam blog ini saya akan sedikit membagi pengetahuan dasar seputar navigasi darat secara umum untuk para petualang dan penggiat alam bebas (petualangan).

Navigasi darat adalah ilmu yang dapat dikatakan ilmu praktis. Karena kemampuan bernavigasi seseorang dapat terasah keterampilannya jika sering berlatih. Peta adalah gambaran konvensional dari permukaan bumi yang diperkecil seperti kenampakan yang sebenarnya dengan skala tertentu, dan digambar diatas bidang datar melalui system proyeksi, serta ditambah tulisan – tulisan sebagai pengenal. Sebuah peta dapat menyajikan informasi yang diungkapkan melalui bentuk simbol dan tulisan yang disebut legenda peta.

Peta sendiri ada bermacam – macam yang beberapa diantaranya antara lain : Peta Geografi, peta ini adalah peta yang menyajikan proyeksi dari deluruh permukaan fisik bumi seperti yang kita lihat pada atlas dan globe. Peta Strategi adalah peta yang memberikan hal – hal yang biasanya diperlukan dalam operasi – operasi militer. Peta Tematik adalah peta yang memberikan gambaran atau informasi yang mempumyai tema tertentu seperti pada peta tanah atau peta geologi, dan yang terakhir adalah peta Topografi yang menyajikan penyebaran, bentuk, dan ukuran bumi seperti relief, beda tinggi rendah suatu daerah, bentuk bukit dan lembah. Peta topografi inilah yang kita sering gunakan dalam berkegiatan di alam bebas.

Pertama kali menghadapi peta hal yang perlu kita perhatikan adalah garis vertikal dan horizontal karena garis ini membantu menentukan letak sebuah titik di peta ( titik koordinat ). Sementara itu beberapa unsur yang bisa dilihat di dalam peta adalah judul peta yang biasanya terdapat di atas dan menunjukkan letak peta. Nomor peta bisa dijadikan sebagai nomor registrasi dari badan atau instansi yang membuat peta atau bisa juga kita gunakan sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta.

Koordinat peta adalah kedudukan suatu titik pada peta yang secara teori koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat sendiri ditentukan dengan menggunakan system sumbu yaitu perpotongan antara garis – garis yang tegak lurus antara satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu koordinat geografis ( Geographical coordinate ) dan koordinat Grid ( Grid Coordinate atau UTM ).

Dalam koordinat geografis sumbu yang digunakan adalah garis bujur ( bujur barat dan bujur timur ) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa dan garis lintang ( garis lintang utara dan lintang selatan ) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada instansi seperti Bakosurtanal biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta geografis ini satu kotak ( atau sering disebut satu karvak ) lebarnya adalah 3,7 Cm. Jika pada skala 1 : 25.000, satu karvak akan sama dengan 30 detik ( 30“ ), dan pada peta skala 1 : 50.000, satu karvak sama dengan 1 menit ( 60“ ).

Sedangkan dalam koordinat Grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak seiap titik yang kita jadikan sebagai acuan. Untuk wilayah Indonesia titik acuan berada di sebelah barata Jakarta ( 60º LU dan 980º BT yang biasa disebut Batavia datum ). Garis vertical diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur atau untuk lebih mudah mngingatnya kita bisa menggunakan KIKA BATA ( kiri kanan, bawah atas ). Sistem koordinat sendiri mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat Grid. Satu karvak sebanding dengan 2 Cm. Karena itu untuk penentuan koordinat Grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat Grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian ( per 2 mm ). Sedangkan penentuan koordinat Grid 8 angka satu karvak akan dibagi menjadi sepuluh bagian ( per 1 mm ).

Kompas adalah alat penunjuk arah yang karena sifat magnetnya jarumnya akan selalu menunjuk arah utara selatan namun utara yang ditunjuk bukan utara yang sebenarnya melainkan utara magnetis. Secara fisik kompas terdiri dari Badan kompas yaitu tempat dimana komponen lainnya berada. Jarum, jarum akan selalu menunjuk arah utara selatan dengan catatan kompas tersebut tidak berada dekat dengan magnet lain atau tidak dipengaruhi medan magnet, dan pergerakan jarum tidak terganggu ( kompas dalam posisi horizontal ). Skala penunjuk, merupakan pembagian derajat system mata angin.
Jenis kompas yang biasa digunakan dalam navigasi darat ada dua macam yakni kompas bidik ( misalnya kompas prisma ) dan kompas orienteering ( misalnya kompas silva, sunto dll ). Untuk membidik suatu titik, kompas bidik jika digunakan secara benar akan lebih akurat dari pada kompas silva. Namun, untuk pergerakan dan kemudahan ploting peta, kompas orienteering akan lebih handal dan efisien. Dalam memilih kompas sendiri kita harus brpikir berdasarkan penggunaannya. Namun secara umum, kompas yang baik adalah kompas yang jarumya dapat menunjukkan arah utara secara konsisten dan tidak bergoyang – goyang dalam waktu lama. Bahan dari badan kompas pun perlu diperhatikan karena bahan dari badan kompas harus kuat / tahan banting mengingat kompas merupakan salah satu unsur vital dalam navigasi darat.

-dari berbagai sumber-
Segala informasi menjadi wajib kita ketahui
Semoga Bermanfaat

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Rabu, 22 April 2009

Tips Berjalan Di Gunung

Melakukan perjalanan di gunung pasti berbeda denga melakukan perjalanan ( berjalan )di jalan raya yang rata atau jalan – jalan di mall dengan menaiki elevator atau escalator.Berjalan di gunung kita akan melewati punggung gunung,memanjat tebing atau menuruni lembahyang dalam,disamping harus membawa beban ransel yang berisi makanan dan segala perlengkapanyang kita perlukan.Tentunya kita memerlukan stamina dan keahlian yang mendukung perjalanannya.
Nah, Apa saja sih yang kita ketahui sebagai seorang yang biasa berjalan di gunung atau disebut pendaki gunung? Mungkin Tips atau teknik ini dapat menambah wawasandan berguna bagi kita agar nyaman dan aman waktu melakukan perjalanan di gunung.
• Pertama yang kita perlu perhatikan sebelum melakukan perjalanan di gunung adalah sepatu,usahakan sepatu yang digunakan adalah sepatu trecking,dengan ukuran sepatu leih besar yang kita pakai sehari – hari.Misalnya ukuran sepatu kita 40,maka dianjurkan saat mendaki gunung kita memakai sepatu no 41,dengan memakai kaos kaki rangkap.Sebelum memakai kaos kaki pastikan kaki sudah kering benar, kalau tidak,di pastikan kaki anda akan bau tak sedap.
• Mulailah berjalan dengan langkah yang pendek ( kecil ),ini membuat nafas kita teratur sehingga akan menghemat tenaga.
• Makanlah sedikit garam untuk menghindarkan keram juga untuk mengganti hilangnya kadar garam dalam tubuh yang keluar lewat cucuran keringat.Waktu berjalan di gunung perhatikan betul (konsentrasi ) terhadap jalur yang kita lewati,pikiran jangan melayang kemana – mana.
• Jangan memotong jalur yang sudah ada kalau tidak mau kesasar.Karena secara ilmiah,jalur pendakian di gunung berkelok – kelok sehingga jika memotong jalur yang sudah ada biasanya akan lebih curam dan terjal yang berakibat tenaga akan terkuras.
• Hafalkan lintasan – intasan atau jalur yang dilewati,kenali tanda medan disekitarnya untuk mengantisipasi kalau pulang agar tidak tersesat.
• Jika terpaksa harus membuka jalur baru,mulailah dengan teliti dan hati – hati.Tentukan duou posisi kita di peta,lalu pastikan jalur yang akan diambil atau dibuka.
• Ingatlah untuk tidak berjaan jauh dari jalan setapak.Jika melalui daerah kawah,berhati – hatilah jangan sampai terkena gas beracun.Setelah berjalan selama satu jam, istirahatlah selama sekitar 10 menit untuk rileks sebentar.
• Pada waktu istirahat / berhenti,duduklah dengan posisi kaki diluruskandiatas badan kita dengan tujuan untuk mengembalikan aliran darah agar normal kembali.karena selama berjalan sebagian besar darah turun dan terpusat dikaki.Selain itu juga untuk menghindari kejang / keram pada kaki.
• Minumlah sedikit air hangat dan manis.Makanlah beberapa makanan ringan yang banyak mengandung kalori,misalnya coklat.kenapa kita harus minum minuman yang hangat,karena pada waktu kita berjalan tubuh kita kondisinya hangat / panas sehingga bila kita minum air dingin maka akan terjadi kontradiksi tubuh yang mencolok yang bisa mengakibatkan keinginan kencing tetapi sedikit – sedikit,yang tentunya akan mengganggu perjalanan.
• Jangan meminum minuman beralkohol yang seringkali dianggap dapat menghangatkan tubuh.minuman beralkohol dapat mengakibatkan pembuluh darah mengembang sehingga udara dingin memperoleh peluang untuk menyusup kedalam tubuh.Selain itu juga menyebabkan mabuk,bagaimana mau naik gunung kalau mabuk?
• Waktu beristirahat jangan terlalu lama,karena otot – otot yang sudah panas dan kencang akan menjadi dingin dan kendur sehingga memerlukan pemanasan kembali.
• Disamping memilih lokasi istirahat yang terlindung dari hembusan angin,pilihlah juga lokasi yang lebih tinggi,karena secara kejiwaan dengan melihat pemandangan yang indah akan sedikit mengobati rasa lelah kita.
Demikianlah sedikit tips cara berjalan atau mendaki gunung.Namun tentunya cara ini bukanlah satu patokan yang baku,yang bisa kita tambah dengan modifikasi yang disesuaikan dengan pengalaman kita.Selamat berjalan – jalan di gunung dan ingatlah selalu,jika kita berangkat dengan selamat maka kembalipun harus selamat pula.
Salam Rimba!!!!!

Daftar pustaka :
1. John Wiseman,The SAS Survival Hand Book,1986
2. Norman Edwin,Mendaki Gunung Sebuah Tantangan Petualangan,1987

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Selasa, 21 April 2009

Mountain Code (Kode Gunung)

You, who are on your road
Should have a code
That you can live by
And so become yourself
Because the past is just a goodbye.

Graham Nash in Déjà vu

A.Pengantar
Berjuta-juta pendaki gunung dan pemanjat tebing di seluruh penjuru dunia. Di banyak negara, olah raga gunung sudah menjadi suatu faktor kebutuhan dari kehidupan sehari-hari. Perkembangan nilai-nilai dan kesadaran umum didalam masyarakat modern sudah menandakan kepedulian mereka pada olah raga mendaki gunung. Sebagai contoh, di awal pertumbuhan kesadaran ekologis terjadi debat antara pemanjat tebing dan pendaki gunung atas hak untuk mengakses area dari aktivitas mereka, sudah menuju suatu proses refleksi, mendorong pemanjat untuk mengambil inisiatif atas isu ekologis. Secara internal, suatu diskusi yang menarik atas gaya pemanjatan yang dilakukan, sebagian besar isu dari hak kekuasaan seperti itu mendukung pemanjat tebing, menentukan oksigen dan tali yang digunakan. Yang perlu dan seringkali juga kerjasama pemanjat-pemanjat yang berhasil dengan sponsor komersil telah dihadapkan pada banyak orang yang memimpin aktifis dengan berbagai pertanyaan, format apa yang mempengaruhi ini sehingga mengorbankan kredibilitas dan integritas dari olahraga mereka. Yang terakhir tapi bukan tidak penting, rasa tidak peduli tumbuh di dalam masyarakat menimbulkan kerusakan dalam pendakian gunung, dan menjadi perhatian di dalam komunitas pendaki.
Kita sudah mempersiapkan kode etik sebagai jawaban atas keinginan yang tersebar luas untuk dengan tegas merumuskan sampai sekarang pendaki yang tidak terdaftar pada peraturan tentang melakukan dan untuk menyesuaikan mereka sesuai dengan kebutuhan waktunya. Kode etik menunjukkan semua orang tertarik akan mendaki gunung, apakah mereka hiking dan trekking di pegunungan, apakah mereka penggemar olah raga panjat tebing atau bahkan mereka pendaki gunung yang sangat tinggi. Petunjuk ditawarkan sebagai proposal dan telah dirumuskan untuk mencetuskan suatu diskusi internasional dengan tujuan untuk mencapai suatu kesepakatan yang luas dengan ketentuan-ketentuan dalam melakukan semua faktor area dari olah raga gunung.

B. Fungsi dari Kode
Kode terdiri dari sebuah sistem berharga, peribahasa dan aturan untuk memberikan suatu basis yang tersusun untuk tingkah laku yang diinginkan didalam tehnik mendaki gunung dan pemanjatan tebing. Walaupun rumusan itu merupakan satu set nilai-nilai untuk membantu pengambilan keputusan didalam situasi yang nyata, Kode tidak berisi perintah yang terperinci.
  1. Kode menggambarkan nilai-nilai pokok didalam tehnik mendaki gunung dan panjat tebing.
  2. Kode berisi prinsip dan peraturan tentang melakukan aspek penting dari pemanjatan.
  3. Kode merumuskan segi standar evaluasi yang layak untuk konflik keputusan dan situasi yang tidak-pasti.
  4. Kode memberikan prinsip yang etis dimana masyarakat dapat memberi penilaian tehnik kegiatan mendaki gunung dan pendakian tebing.
  5. Kode memperkenalkan kepada pemanjat pemula satuan nilai-nilai dan prinsip moral yang berhubungan dengan olahraga mereka.
  6. Kode menetapkan suatu standard dimana pemanjat dapat menilai dan, jika perlu, menghukum aktivitas yang lain dari pemanjat.
C. Nilai-nilai
Martabat manusia
Sehubungan dengan Artikel 1 dari UN Bill of Human Rights, Kode didasarkan dengan landasan pemikiran manusia yang dilahirkan sama didalam martabat dan hak dan tindakan sebaiknya memelihara semangat persaudaraan.
Hidup, kebebasan, kebahagiaan
Sudah tentu pemanjat dan pendaki gunung mempunyai hak azasi manusia yang tidak dapat dicabut yang dinyatakan oleh Thomas Jefferson ”hidup yang terkemuka, kebebasan, dan mencari kebahagiaan”. Kita merasakan suatu tanggung jawab yang khusus ke arah populasi yang berasal dari area gunung, hak untuk hidup, menentukan kehidupan dan melindungi diri sendiri.
Kealamian yang Tetap utuh
Terima kasih untuk kontak intensive mereka dengan kealamian, pemanjat dan alpinists mengembangkan suatu kesadaran untuk keindahan sebuah lingkungan yang sehat dan kebutuhan untuk memelihara fauna dan tumbuh-tumbuhannya. “Tidak meninggalkan jejak apapun” selalu menjadi sebuah kunci keluar di dalam filosofi lingkungan kita. Dengan tumbuhnya ancaman untuk ekosistem yang mudah pecah di region gunung diseluruh penjuru dunia, salah satu dari komitmen yang paling utama dari masyarakat pemanjat telah menjadi perlindungan dari membahayakan jenis tumbuh-tumbuhan dan fauna, baik di pegunungan dan di area pemanjatan crag.
solidaritas
Ada sedikit situasi di mana orang-orang menjadi sangat bergantung pada yang lain seperti pemanjat pada sebuah rute yang sulit. Memberi penghargaan pengalaman dan sukses paling siap ditunjukkan dalam sebuah team yang harmonis dimana saling mendukung adalah peraturannya. Pengalaman bersama dari petualangan di luar yang intensive mengurangi perbedaan dalam kaitan dengan kelas sosial, umur, ras, agama atau kebangsaan. Seperti itu, pemanjatan menjadi bermakna untuk mempromosikan pemahaman antar individu seperti halnya negara-negara.
Kebenaran
Seperti prestasi dalam memanjat seringkali pergi tanpa disaksikan dan seringkali juga tidak dapat dijadikan dokumentasi yang tidak dapat dibantah, ahli dan publik mirip harus percaya pada keadaan yang sebenarnya dari aktifis yang melaporkan tentang prestasi mereka. Jika kesewenang-wenangan menggantikan kebenaran, akan menjadi mustahil untuk mengevaluasi prestasi dalam pememanjatan, dengan begitu merampas olahraga kita dari salah satu alasan yang paling utama.
Self-Actualisasi/perwujudan diri
Perwujudan diri merupakan pendirian kita bahwa semua manusia - setelah tuntutan fisik dan membutuhkan keamanan, cinta dan pengakuan telah dijumpai - berjuang untuk perwujudan diri. Karena jutaan orang-orang di seluruh bumi, memanjat dan mendaki gunung sudah menjadi sebuah faktor yang signifikan dalam pencarian hidup yang penuh arti. Itu adalah lanjutan akan pemanjatan yang mereka alami didukung dari sebuah lingkungan sosial yang ramah, pengakuan dan kesenangan yang sangat menggembirakan dari pencapaian olahraga.
Excellence/Keunggulan
Semua pendaki gunung dan pemanjat tebing suka mengerjakan permasalahan yang menantang kedua-duanya, secara phisik dan secara mental, mengejar elegant dan pelaksanaan yang terkendali dari tugas tersebut. Banyak aktifis bekerja keras untuk meningkatkan kemampuan mereka. Tanpa kemajuan yang berkesinambungan pada pinggiran dari prestasi, pemanjatan akan kehilangan banyak tentang teori pengaruh energi dan daya tariknya.
Adventure/Petualangan
Kita mengalami prestasi kita sendiri paling sering secara intensif ketika– bergerak dekat dengan batas kita– kita saling berinteraksi dengan rintangan yang alami yang diajukan oleh pegunungan atau crag secara langsung sebisa mungkin, dengan sebuah percampuran minimum teknologi yang bertentangan. Karena alasan ini, resiko dan petualangan adalah faktor penting dalam memanjat. Perasaan intensive dari kepuasan memanjat yang dapat diberikan, adalah suatu produk dari keseimbangan gairah antara bahaya dan keselamatan yang dicapai melalui percampuran yang cekatan antara keberanian, keputusan yang rasional, kendali emosional, tanggung jawab dan olah raga yang terarah.

Nilai-nilai Kualitas
Walaupun nilai individualis memainkan sebuah peran yang penting dalam melukiskan pemanjatan, kita harus menyadari bahwa dalam persoalan moral apapun, ranking ini di bawah asas manusia dan orientasi ideal lingkungan. Meletakkan perwujudan diri(self- actualization), performance dan petualangan di atas hak untuk hidup dari manusia dan lingkungan alaminya bertentangan dengan nilai-nilai humanistic mendaki gunung dan pendakian tebing. Hal Itu merupakan tanggung jawab dari setiap pemanjat tunggal untuk menimbang dan menyeimbangkan nilai-nilai dari olahraganya sedemikian rupa sehingga pemanjatan dapat memelihara integritasnya dan itu memungkinkan kecenderungan yang berlawanan menghadapi trends marked saat ini yang ditandai oleh egotisme dan ketamakan.

Translated from www.uiaa.ch

baca selengkapnya... baca selengkapnya...

Navigasi Darat

Navigasi darat adalah ilmu yang dapat dikatakan ilmu praktis. Karena kemampuan bernavigasi seseorang dapat terasah jika sering berlatih. Peta adalah gambaran konvensional dari permukaan bumi yang diperkecil seperti kenampakan yang sebenarnya dengan skala tertentu, dan digambar diatas bidang datar melalui system proyeksi, serta ditambah tulisan – tulisan sebagai pengenal. Sebuah peta dapat menyajikan informasi yang diungkapkan melalui bentuk simbol dan tulisan.
Peta sendiri ada bermacam – macam yang beberapa diantaranya antara lain : Peta Geografi, peta ini adalah peta yang menyajikan proyeksi dari deluruh permukaan fisik bumi seperti yang kita lihat pada atlas dan globe. Peta Strategi adalah peta yang memberikan hal – hal yang biasanya diperlukan dalam operasi – operasi militer. Peta Tematik adalah peta yang memberikan gambaran atau informasi yang mempumyai tema tertentu seperti pada peta tanah atau peta geologi, dan yang terakhir adalah peta Topografi yang menyajikan penyebaran, bentuk, dan ukuran bumi seperti relief, beda tinggi rendah suatu daerah, bentuk bukit dan lembah. Peta topografi inilah yang kita sering gunakan dalam berkegiatan di alam bebas.
Pertama kali menghadapi peta hal yang perlu kita perhatikan adalah garis vertikal dan horizontal karena garis ini membantu menentukan letak sebuah titik di peta ( titik koordinat ). Sementara itu beberapa unsur yang bisa dilihat di dalam peta adalah judul peta yang biasanya terdapat di atas dan menunjukkan letak peta. Nomor peta bisa dijadikan sebagai nomor registrasi dari badan atau instansi yang membuat peta atau bisa juga kita gunakan sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta.
Koordinat peta adalah kedudukan suatu titik pada peta yang secara teori koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat sendiri ditentukan dengan menggunakan system sumbu yaitu perpotongan antara garis – garis yang tegak lurus antara satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu koordinat geografis ( Geographical coordinate ) dan koordinat Grid ( Grid Coordinate atau UTM ).
Dalam koordinat geografis sumbu yang digunakan adalah garis bujur ( bujur barat dan bujur timur ) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa dan garis lintang ( garis lintang utara dan lintang selatan ) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada instansi seperti Bakosurtanal biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta geografis ini satu kotak ( atau sering disebut satu karvak ) lebarnya adalah 3,7 Cm. Jika pada skala 1 : 25.000, satu karvak akan sama dengan 30 detik ( 30“ ), dan pada peta skala 1 : 50.000, satu karvak sama dengan 1 menit ( 60“ ).
Sedangkan dalam koordinat Grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak seiap titik yang kita jadikan sebagai acuan. Untuk wilayah Indonesia titik acuan berada di sebelah barata Jakarta ( 60º LU dan 980º BT yang biasa disebut Batavia datum ). Garis vertical diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur atau untuk lebih mudah mngingatnya kita bisa menggunakan KIKA BATA ( kiri kanan, bawah atas ). Sistem koordinat sendiri mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat Grid. Satu karvak sebanding dengan 2 Cm. Karena itu untuk penentuan koordinat Grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat Grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian ( per 2 mm ). Sedangkan penentuan koordinat Grid 8 angka satu karvak akan dibagi menjadi sepuluh bagian ( per 1 mm ).
Kompas adalah alat penunjuk arah yang karena sifat magnetnya jarumnya akan selalu menunjuk arah utara selatan namun utara yang ditunjuk bukan utara yang sebenarnya melainkan utara magnetis. Secara fisik kompas terdiri dari Badan kompas yaitu tempat dimana komponen lainnya berada. Jarum, jarum akan selalu menunjuk arah utara selatan dengan catatan kompas tersebut tidak berada dekat dengan magnet lain atau tidak dipengaruhi medan magnet, dan pergerakan jarum tidak terganggu ( kompas dalam posisi horizontal ). Skala penunjuk, merupakan pembagian derajat system mata angin.
Jenis kompas yang biasa digunakan dalam navigasi darat ada dua macam yakni kompas bidik ( misalnya kompas prisma ) dan kompas orienteering ( misalnya kompas silva, sunto dll ). Untuk membidik suatu titik, kompas bidik jika digunakan secara benar akan lebih akurat dari pada kompas silva. Namun, untuk pergerakan dan kemudahan ploting peta, kompas orienteering akan lebih handal dan efisien. Dalam memilih kompas sendiri kita harus brpikir berdasarkan penggunaannya. Namun secara umum, kompas yang baik adalah kompas yang jarumya dapat menunjukkan arah utara secara konsisten dan tidak bergoyang – goyang dalam waktu lama. Bahan dari badan kompas pun perlu diperhatikan karena bahan dari badan kompas harus kuat / tahan banting mengingat kompas merupakan salah satu unsur vital dalam navigasi darat.

-dari berbagai sumber-

baca selengkapnya... baca selengkapnya...
free counters

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Indonesian Blogger Suara Petualang Adventure Blogs - Blog Catalog Blog Directory Free Automatic Backlink kostenlose backlinks